Senin, 14 April 2014

Rampasan Kuasa Mesir


Buku ini membahas tentang Rampasan kuasa di Mesir baru-baru ini, Dr. Mursi adalah adalah Presiden yang dipilih secara demokratis sepanjang sejarah perpolitikan Mesir Namun kenapa ia digulingkan ?

Siapa yang paling di untungkan dalam rampasan kuasa tersebut ?

Siapakah tokoh-tokoh dan kelompok-kelompok yang telah berusaha merampas kuasa dari tangan Mursi ? Padahal setahun pemerintahannya banyak kegemilangan yang diraih.

Benarkah As-Sisi mentri pertahanan yang diangkat sumpah oleh Mursi kemudian menggulingkan Mursi sebagai presiden yang sah, bukankah Mursi adalah pengetua tertinggi tentara ? Apa konflik Mursi dengan tentara selama ini, adakah rampasan kuasa ini memang telah dirancang oleh Mubarak dari dalam penjara ?
Apa pandangan Al-Azhar atas rampasan kuasa ? Dan peran Sheikhul Azhar Dr. Ahmad Thayyib ? kenapa beliau berada ketika As-sisi mengisytiharkan rampasan kuasa ?

Tokoh-tokoh dunia dan Negara-negara didunia turut mengecam tindakan rampasan kuasa, apa pendapat mereka ?
Benarkah Amerika, Israel, Saudi Arabia, Unit Emirate Arab mendalang dana untuk rampasan kuasa Mesir baru-baru ini ?

Korban jiwa yang tewas semakin bertambah, peristiwa depan garda republik, penembakan di Rab`ah Al-Adawiyyah jama`ah shalat subuh, membuat tokoh-tokoh Islam tidak tinggal diam, Sheikh Al-Qardhawi mengeluarkan fatwanya , Adly Mansour diangkat sebagai Presiden, El-Barade tidak mau sama sekali melibatkan Mursi dalam penyelesaian konflik Mesir, Siapakah El-Barade ?

Buku ini akan menjawab semua soalan-soalan diatas, dan soalan-soalan dalam minda anda, sekaligus menambah pengetahuan anda tentang konflik Mesir.


Dapatkan buku ini dengan menghubungi penulis:

FB : Muhammad Kamal Sulaiman
HP : 0196279108
Atau What up di no yang sama. 


Harga buku : 25 RM


Buku akan mendapatkan discound khas bagi wilayah Melaka dan semenanjung.

Jumat, 28 Februari 2014

Rabithah Dengan Mursyid ( Guru kerohaniyan )

Pengertian Tata Cara Rabitah Dalam Tarekat


Rabithah dalam pengertian bahasa(lughat) artinya bertali, berkait atau berhubungan. Sedangkan dalam pengertian istilah thareqat, rabithah adalah menghubungkan ruhaniah murid dengan ruhaniah guru,Guna mendapatkan wasilah dalam rangka perjalanan menuju Allah. Syaikh Mursyid adalah Khalifah Allah dan Khalifah Rasulullah. Mereka adalah wasilah atau pengantar menuju Allah. Jadi tujuan murobith adalah memperoleh wasilah.Rabithah antara murid dengan guru biasa adalah transfer of knowledge , yakni mentransfer ilmu pengetahuan, maka rabithah antara murid dengan guru mursyid adalah transfer of spiritual, yakni mentransfer masalah-masalah keruhanian. Di sinilah letak perbedaannya. Kalau transfer of knowledge tidak bisa sempurna tanpa guru, apalagi transfer of spiritual yang jauh lebih halus dan tinggi perkaranya, maka tidak akan bisa terjadi tanpa guru mursyid.

Dasar-dasar utamanya adalah penunjukan yang dilakukan oleh Tuhan lewat guru mursyid atau ilham dari Allah Swt Karena itu tidak semua orang bisa menjadi guru mursyid. Seorang mursyid adalah seorang yang ruhaninya sudah bertemu Allah dan berpangkat waliyan mursyida, yakni kekasih Allah yang layak menunjuki umat sesuai dengan hidayah Allah yang diterimanya. Hal ini seperti dijelaskan dalam surat al Kahfi ayat 17.

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang Luas dalam gua itu. itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barang siapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (QS. al Kahfi : 17)

Jadi jelas fungsi guru mursyid adalah sebagai pembimbing ruhani, di samping itu juga sebagai orang tua yang harus dipatuhi segala perintahnya dan dijauhi segala yang dilarangnya. Dengan demikian seorang murid merasa takut manakala meninggalkan perintah agama dan atau melanggar larangan agama, karena waktu itu akan terbayanglah bagaimana marahnya wajah guru mursyid manakala dia berbuat demikian.

Hal yang demikian ini pulalah yang menyebabkan nabi Yusuf merasa takut dan enggan ketika hendak diajak berzina oleh Siti Zulaikha. Terbayanglah oleh nabi Yusuf as wajah ayahnya (nabi Ya’kub) atau wajah suami Zulaikha (Qithfir) manakala ayahnya atau suami Zulaikha mengetahui apa yang akan diperbuatnya.
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (QS. Yusuf : 24)

Dasar-Dasar Rabithah Mursyid



Dasar-dasar hukum yang digunakan sebagai dalil terhadap rabithah adalah firman Allah Swt.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersikap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kamu kepada Allah Swt supaya kamu beruntung (sukses). (QS. Ali Imran : 200).

Kata warabithu dalam ayat ini adalah diambil arti hakikinya, lebih dalam dari sekedar makna lahiriahnya yaitu mengadakan penjagaan di pos-pos penting dalam situasi peperangan, agar musuh tidak menerobos. Kalau perang fisik, seseorang menjaga pertahanan wilayah dari serbuan musuh-musuh dari orang kafir, maka dalam perang metafisik, orang mengadakan rabithah di wilayah hati agar syetan tidak menyusup ke wilayah hati sanubari tersebut. Itulah yang menjadi dasar-dasar rabithah bagi para pakar tawasuf / thareqat. Menurut mereka rabithah mursyid adalah salah satu memperoleh wasilah menuju Allah. Firman Allah Swt.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah / jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihatlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. al Maidah : 35)

Menurut pendapat ahli thareqat, mafhum al-wasilah dalam ayat ini bersifat umum. Wasilah dapat diartikan dengan amal-amal kebajikan Berkumpul dan bergandengan dengan guru mursyid secara lahir atau batin termasuk amal yang baik dan terpuji. Berkumpul dan bergabung itulah oleh kalangan ahli thareqat disebut dengan rabithah mursyid. Jika diperintah mencari wasilah, maka rabithah adalah wasilah yang terbaik diantara jenis wasilah yang lain. Firman Allah
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah : jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kamu. Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31)

Ayat di atas menurut kalangan thareqat, isyarat kepada rabithah, sebab “mengikut” فَاتَّبِعُونِي itu menghendaki melihat yang diikuti. Dan melihat yang diikuti ada kalanya melihat tubuhnya secara nyata (konkret) dan ada kalanya melihatnya secar hayal (abstrak). Melihat dalam hayal itulah yang dimaksud dengan rabithah. Jika tidak demikian, tentu tidak dapat dinamakan mengikut. Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Swt dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS. at Taubah : 119)

Asy Syekh Ubaidillah Ahrar menafsirkan kebersamaan dengan orang-orang yang benar, yang diperintahkan oleh Allah Swt dalam ayat itu terbagi dua:

· Bersama-sama jasmaniah, yaitu semajelis, sehingga kita mendapatkan keberuntungan dari orang-orang yang shiddiq.

· Bersama-sama maknawi, yaitu bersama-sama ruhaniah yang diartikan dengan rabithah.

Dalam hadist qudsi Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : “Tidak dapat bumi dan langit-Ku menjangkau/ memuat akan zat-Ku (yang membawa Asma-Ku / Kalimah-Ku), melainkan yang dapat menjangkaunya / memuatnya ialah Hati Hamba-Ku Yang Mukmin / suci, lunak dan tenang.” (Hadis Qudsi R. Ahmad dari Wahab bin Munabbih).

Dalam Sebuah Hadist Rasulullah SAW Bersabda :
كُنْ مَعَ الله فَ اِلَى مْتَكُنْ مَعَ الله فَكُنْ مَعَ مَنْ مَعَ الله فَ اِنَّهُ يُوْاصِلُكَ اِلَّاَ الله

" Kun ma'allah faiilam takun ma'allah fakun ma'a man ma'allah fainnahu yuushiluka ilallah " ( HR. Abu daud )

“Jadilah ( Ruhani ) kalian Bersama Allah , Jika ( ruhani ) Kalian Belum Bisa Bersama Allah, Maka Jadilah Kalian Bersama Dengan Orang Yang ( Ruhaninya ) telah Bersama ALLAH, Sesungguhnya Mereka Akan menghantarkan ( Ruhani ) kamu Kepada Allah.”



Asy Syekh Muhammad Amin al Kurdi menyatakan wajibnya seorang murid terus-menerus me-rabithah-kan ruhaniahnya kepada ruhaniah Syekh gurunya yang mursyid, guna mendapatkan karunia dari Allah Swt. Karunia yang didapati itu bukanlah karunia dari mursyid, sebab mursyid tidak memberi bekas. Yang memberi bekas sesungguhnya hanya Allah Swt, sebab di tangan Allah Swt sajalah seluruh perbendaharaan yang ada di langit dan di bumi, dan tidak ada yang dapat berbuat untuk men-tasaruf-kannya kecuali Allah Swt. Hanya saja Allah Swt men-tasaruf-kannya itu, melalui pintu-pintu atau corong-corong yang telah ditetapkan-Nya, antara lain melalui para kekasih-Nya, para wali-wali Allah Swt yang memberikan syafaat dengan izin-Nya (Amin al Kurdi: 1994, hlm. 448).



Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irdibiy Rhm. mengatakan:

“Sesungguhnya rasa dekat dengan Syekh Mursyid bukan dikarenakan dekat zatnya, dan bukan pula karena mencari sesuatu dari pribadinya, tetapi karena mencari hal-hal yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya (kedudukan yang telah dilimpahkan Allah atasnya) dengan mengi’tiqadkan (meyakini) bahwa yang membuat dan yang berbekas hanya semata-mata karena Allah Ta’ala seperti orang faqir berdiri di depan pintu orang kaya dengan tujuan meminta sesuatu yang dimilikinya sambil mengi’tiqadkan bahwa yang mengasihi dan memberi nikmat hanya Allah yang mempunyai gudang langit dan bumi, serta tidak ada yang menciptakan selain dari-Nya. Alasan ia berdiri di depan pintu rumah orang kaya itu karena ia meyakini bahwa di sana ada salah satu pintu nikmat Allah yang mungkin Allah memberikan nikmat itu melalui sebab orang kaya itu”. (Tanwirul Qulub : 527)

Dalam kitab Mafaahiim Yajiibu an Tus-haha karangan Syekh Muhammad ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani bahwa Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan:

“Sesungguhnya syi’ar kaum muslimin dalam peperangan Yamamah adalah: ‘Wahai Muhammad! (tolonglah kami)”.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jika telah menyesatkan akan kamu sesuatu atau ingin minta pertolongan, sedangkan dia berada di satu bumi yang tidak ada padanya kawan, maka hendaklah dia berkata: ‘Wahai hamba Allah, tolonglah aku!’ Maka sesungguhnya bagi Allah itu ada hamba-hamba yang tidak dapat dilihat. Dan sungguh terbuktilah yang demikian itu”. (HR. Thabrani)

Dan lagi sabda Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat selain Hafazhah yang menulis apa-apa yang jatuh dari pohon. Maka apabila menimpa kepincangan di bumi yang luas, hendaklah dia menyeru: ‘Tolong aku, wahai hamba Allah”. (HR. Thabrani)

Dikisahkan ketika anak-anak Ya’qub As. merasa bersalah (karena berusaha mencelakakan Yusuf As.), mereka semua menghadap orang tuanya, dan memohon kepada Ya’qub As.
قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ
قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم

“Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. Ya’qub berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Pengampun lagi Penyayang (kepada seluruh hamba-Nya)”. (QS. Yusuf[12]: 96-98).

Inilah salah satu bukti bahwa permohonan do’a ampunan tidak hanya dilakukan si pemohon, tapi dapat dimintakan tolong kepada seseorang yang dianggap shaleh atau dekat kepada Allah SWT.



Adapun dalil sunah tentang rabithah antara lain tertera dibawah ini

Hadits Bukhari menyatakan:
أَنَّ اَبَا بَكْرِ الصِّدِّيْق رَضِىَ الله عَنْهُ شكا لِلنَّبِىِّ عَدَمَ انْفِكاَكِهِ. عَنْهُ حَتىَّ فِى الْخَلاَءِ

Bahwa Abu Bakar as Shiddik mengadukan halnya kepada Rasulullah Saw bahwa ia tidak pernah lekang (terpisah ruhaninya) dari Nabi Saw sampai ke dalam WC.



Sedangkan Sayyid Bakri berpendapat antara lain berbunyi sebagai berikut
وَيُضِمُّ أَيْضَا إِلىَ ذَلِكَ اسْتِمَضَارَشَيْخِهِ الْمُرْشِدِ لِيَكُوْنَ رَفِيْقَهُ فىِ السَّيِر إِلىَ الله تَعَالَى


Dan menyertakan pula kepada (dzikir Allah Allah) itu, akan hadirnya Gurunya yang memberi petunjuk, agar supaya menjadi teman dalam perjalan menuju kepada Allah Ta’ala. (Sayyid al Bakri dalam kitab Kifayatul atqiya, hlm. 107).

Pendapat Para Imam Tasawuf Tentang Rabithah

a. Imam Sya’rani dalam Nafahatu Adabidz Dzikri mengatakan, “Dianjurkannya kepada orang banyak supaya mereka mengamalkan adab dzikir yang 20 perkara itu. Dinyatakan adab yang ke-4: hendaklah sejak permulaan dzikir, himmah syaikhnya terus-menerus berada dalam kalbunya. Ke-5: dia menganggap bahwa limpahan dari gurunya itu pada hakikatnya adalah pancaran dari Nabi Saw karena syaikhlah merupakan wasilah murid dengan Nabi Saw. Dihayalkan rupa guru di depan matanya, inilah maksud rabithah, tidak lebih.

b. Syaikh Tajuddin an Naqsyabandi dalam Risalah-nya, menyatakan bahwa apabila seseorang telah selesai dengan urusan dunianya, maka hendaklah ia mengambil wudhuk, lalu masuk ke tempat khalwatnya. Sesudah duduk, pertama-tama dia harus menghadirkan rupa guru.

c. Syaikh Abdul Ghani an Nablusi dalam komentarnya tentang Risalah Syaikh Tajuddin an Naqsyabandi itu menyatakan bahwa itulah cara yang paling sempurna, sebab syaikh adalah merupakan pintunya ke hadirat Allah dan wasilah kepada-Nya. seperti Firman Allah dalam surat at Taubah ayat 119 di atas. Firman Allah dibawah ini menunjukkan bahwa rabithah mursyid adalah termasuk dzikir kepada Allah Swt yang maha rahman. Dzikir demikian itu mampu mengusir syetan. Bilamana orang enggan melakukan demikian, (dzikir dengan rabithah) maka Allah akan menyertakan orang tersebut dengan syetan yang selalu membelokkannya ke jalan yang lurus. Tetapi anehnya orang tersebut merasa mendapatkan petunjuk. Rasanya jauh api dengan panggang.

Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al Qur’an), kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), maka syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syetan-syetan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS. az Zukhruf : 36 – 37)

d. Syaikh Ubaidullah al Ahrar menyatakan bahwa maksud surat at Taubah ayat 119, yang artinya:

Wahai orang-orang mukmin takutlah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang benar. Di sini kita diperintahkan supaya berada bersama-sama dengan orang-orang yang benar, baik dari segi rupa maupun dari segi makna.

Namun demikian, walaupun rabithah merupakan faktor terpenting dalam thareqat, kalangan ulama di luar tasawuf masih menganggapnya sebagai bid’ah bahkan divonisnya sebagai perbuatan isyrak (menyerikatkan Allah) dengan guru atau syaikh. Dan permasalahan rabithah sampai kini masih tetap belum ada titik temu. Paham Wahabisme yang dijadikan ideologi Arab Saudi (sebagai negara Islam dan pusat peradaban Islam), sangat keras menentang rabithah, bahkan tidak hanya rabithah melainkan dzikir-dzikir dalam thareqat juga dianggap sebagai bid’ah.


TATA CARA RABITHAH

Rabithah artinya ikatan atau berhubungan, yang berarti proses terjadinya hubungan atau ikatan ruhaniyah antara seorang murid dengan Guru Mursyidnya. Mengikat atau menghubungkan diri dengan Manajemen Vertikal (Ilahiyah) seperti yang diungkapkan Al-Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang memiliki iman, bersabarlah! jadikanlah kesabaran atasmu, berabithahlah (agar diteguhkan), dan takutlah kepada Allah, mudah-mudahan engkau termasuk orang-orang beruntung”. (QS. Ali Imran[3]: 200)

Melakukan rabithah mengandung makna menghadirkan/ membayangkan rupa Syekh atau Guru Mursyidnya yang Kamilah di dalam fikiran ketika hendak melaksanakan ibadah, lebih khusus ketika berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Menurut beberapa Ulama shufi, berabithah itu lebih utama daripada dzikirnya seorang Salik. Melaksanakan rabithah bagi seorang murid lebih berguna dan lebih pantas daripada dzikirnya, karena Guru itu sebagai perantara dalam wushul ke hadirat Allah Jalla wa ‘Alaa bagi seorang murid. Apabila bertambah rasa dekat dengan gurunya itu, maka akan semakin bertambah pula hubungan batinnya, dan akan segera sampai kepada yang dimaksud, yakni makrifat. Dan seyogyanya bagi seorang murid harus Fana dahulu kepada Guru Mursyidnya, sehingga akan mencapai Fana dengan Allah Ta’ala”.[1]

Menurut Syekh Muhammad bin Abdulah Al-Khani Al-Khalidi dalam kitabnya Al-Bahjatus Saniyyah hal. 43, berabithah itu dilakukan dengan 6 (enam) cara:

1. Menghadirkannya di depan mata dengan sempurna.

2. Membayangkan di kiri dan kanan, dengan memusatkan perhatian kepada ruhaniyahnya sampai terjadi sesuatu yang ghaib. Apabila ruhaniyah Mursyid yang dijadikan rabithah itu tidak lenyap, maka murid dapat menghadapi peristiwa yang akan terjadi. Tetapi jika gambarannya lenyap maka murid harus berhubungan kembali dengan ruhaniyah Guru, sampai peristiwa yang dialami tadi atau peristiwa yang sama dengan itu, muncul kembali. Demikianlah dilakukan murid berulang kali sampai ia fana dan menyaksikan peristiwa ghaib tanda Kebesaran Allah. Dengan berabithah, Guru Mursyidnya menghubungkannya kepada Allah, dan murid diasuh dan dibimbingnya, meskipun jarak keduanya berjauhan, seorang di barat dan lainnya di timur. Selain itu akan membentenginya dari pikiran-pikiran yang menyesatkan sehingga memicu pintu ruhani yang batil memasuki dirinya (baik ruhani-ruhani ataupun i’tikad-i’tikad yang batil),

3. Menghayalkan rupa Guru di tengah-tengah dahi. Memandang rabithah di tengah-tengah dahi itu, menurut kalangan ahli Thariqat lebih kuat dapat menolak getaran dan lintasan dalam hati yang melalaikan ingat kepada Allah Ta’ala.

4. Menghadirkan rupa Guru di tengah-tengah hati.

5. Menghayalkan rupa Guru di kening kemudian menurunkannya ke tengah hati. Menghadirkan rupa Syekh dalam bentuk keempat ini agak sukar dilakukan, tetapi lebih berkesan dari cara-cara sebelumnya.

6. Menafikan (meniadakan) dirinya dan mentsabitkan (menetapkan) keberadaan Guru. Cara ini lebih kuat menangkis aneka ragam ujian dan gangguan-gangguan.


Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin, karangan Sayyid Abdurrahman bin Muhammad disebutkan: “Perkataan seorang mukmin yang menyeru ‘Wahai Fulan’ ketika di dalam kesusahan, termasuk dalam tawasul yang diseru kepada Allah. Dan yang diseru itu hanya bersifat majaz bukan hakikat. Makna ‘Wahai Fulan! Aku minta dengan sebabmu pada Tuhanku, agar Dia melepaskan kesusahanku atau mengembalikan barangku yang hilang dariku, yang diminta dari Allah SWT. Adapun yang diucapkan kepada Nabi/Wali menjadi sebagai majaz (kiasan) dan penghubung, maka niat meminta kepada Nabi/Wali hanyalah sebagai sebab saja.

Dan diucapkan pada syara’ dan adat, contohnya adalah seperti permintaan tolong kita kepada orang lain: ‘tolong ambilkan barang itu’. Maka apa yang sebenarnya adalah kita meminta tolong dengan sebab orang tadi, hakikatnya Tuhan Yang Kuasa atas segala sesuatunya. Apabila kita meyakini orang itu mengambil sendiri secara hakikatnya, maka barulah boleh dikatakan syirik. Maka begitu pulalah berabithah itu sebagai sebab yang menyampaikan bukan tujuan.

Berbicara mengenai sebab, telah banyak ayat Al-Quran dan Hadits Qudsi yang menyatakan bahwa segala perkara yang dibutuhkan manusia dan makhlukNya didapat dan dikaruniakan oleh Allah Yang Kuasa, apakah itu makanan, minuman, pakaian, rizki, kesembuhan, dan sebagainya. Maka untuk kesemuanya itu perlu adanya sebab yang menyampaikan. Penyampaiannya bisa cepat atau lambat. Dan seseorang yang menerima rizki dari seseorang lainnya, sepantasnyalah berterimakasih kepadanya sebagai adab atas penyampaian rizkinya itu. Begitu pulalah seseorang meminta akan sesuatu hanya kepada sahabat atau lainnya, tentu ada adab-adab atau tatacara tertentu yang harus dilakukan, agar hajatnya itu terpenuhi sesuai dengan kehendaknya. Dan tidak hanya lahiriyyah saja, perkara-perkara ruhaniyah memiliki adab atau tatacaranya, agar tercapai penyampaian maksudnya ke Hadhirat Allah Yang Suci.

Maka penyampaian kehendak seseorang hamba kepada lainnya, yakni yang membutuhkan sesuatu selain Allah adalah suatu bentuk majaz bukan hakikat. Kalau ia beri’tiqad memohon secara hakikat, maka jadilah syirik yang menyekutukan Tuhannya.
wallahu `alam

Jumat, 21 Februari 2014

Doa pertunangan Aishah Binti Azmi dengan Muhammad Hilmi Bin Zolkifli



Doa pertunangan Aishah Binti Azmi dengan Muhammad Hilmi Bin Zolkifli

Ya Allah, sumber segala barakah, curahkanlah berkat-Mu atas lambang ikatan pertunangan  ini, dan bimbinglah kedua saudara kami ini dalam masa pertunangannya.  Semoga mereka mencari kehendakMu dengan hati yang ikhlas dan memperoleh kebaikanMu yang berlimpah.
 Ya Allah Ya Tuhan Kami, sumber segala cinta kasih, karena ehsan-Mu, dua pasangan muda ini dapat saling bertemu. Kini mereka memohon rahmatMu untuk memasuki masa pertunangan dan mempersiapkan diri untuk gerbang Perkahwinan. Kami mohon, kuatkanlah mereka dengan berkat-Mu yang melimpah. Semoga dalam masa pertunangan suci ini, mereka kian hari kian saling menghargai, dan saling mengasihi dengan kasih sejatimu Ya Allah.
 Kami memuji Engkau  ya Allah, kerana dengan pengharapan yang lembut dan mendalam,  Engkau menggerakkan hati dan merancangkan pertunangan Aishah Binti Azmi dengan Muhammad Hilmi Bin Zolkifli
Kami mohon, sudilah menguatkan hati mereka, agar mereka menjalani masa pertunangan ini dengan bertumpu pada iman, dan dalam segala hal berusaha berkenan kepadaMu, sehingga dengan aman sentosa akhirnya sampai pada gerbang perkahwinan.
Ya Allah yang maha pengasih penuh cinta kasih, yang maha penyayang penuh kasih sayang, jadikan bagi kami seorang suami/istri yang menyayangi dan mencintai sesama.


Jadikan bagi kami jodoh yang serasi, saling mengasihi saling menyayangi dalam rahmat dan kasih sayangMu.
Jauhkanlah kami daripada kemaksiatan, kebencian, kemarahan, kecurigaan dari hati kami masing masing.
Jadikan kami dalam naungan rahmat dan kasih sayangMu, Lindungi hubungan kami dari campur tangan syetan dari golongan jin dan manusia yang menimbulkan perpecahan, kemarahan dan kebencian diantara sesama kami. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah , Engkaulah sebaik baik yang memperkenankan doa.
Ya Allah limpahkanlah rezki yang halal lagi banyak kepada kami, sehingga kami dapat menolong agamamu ya Allah, jaukanlah kami daripada kefakiran dan malapetaka.

                                                                                      22-feb-2014
                                                        Muhammad Kamal Sulaiman L.c Dp.l

Rabu, 05 Februari 2014

Kebejatan Pastur Membuat Masyarakat Dunia Mulai Peka Dengan Penyimpangan Dalam Ajaran Kristen

Rabu, 05/02/2014 20:35 WIB

Vatikan Dikecam Keras Soal Pencabulan dan Pemerkosaan

BBCIndonesia.com - detikNews
Dengan kata-kata tajam, PBB menuduh Vatikan mengadopsi kebijakan yang memungkinkan pastor memperkosa dan mencabuli puluhan ribu anak-anak.

Kecaman tersebut tertuang dalam laporan Komite Hak Asasi Manusia PBB yang dikeluarkan hari Rabu ini (05/02) di Jenewa.

Ketua komite Kirsten Sandberg mengatakan gereja hanya tertarik menjaga reputasi bukan menjamin kesejahteraan anak-anak.

"Tahta Suci mengadopsi kebijakan dan berbagai praktek yang membuat pelanggaran terus terjadi dan para pelaku bebas dari jeratan hukum," kata Sandberg.

Dalam laporan, PBB mengatakan Vatikan harus memindahkan semua anggota kepastoran yang diketahui atau dicurigai melakukan pencabulan atau pemerkosaan terhadap anak-anak.

Komite Hak-hak Anak menambahkan sangat prihatin atas kenyataan bahwa Tahta Suci belum mengakui skala kejahatan yang telah dilakukan dan menyerukan kepada Vatikan untuk membuka segala arsipnya.

Komite juga menegaskan bahwa Gereja Katolik Roma harus menetapkan peraturan jelas untuk memastikan kasus-kasus dugaan pencabulan anak-anak dilaporkan ke pihak berwenang sipil.

Vatikan diperkirakan akan mengeluarkan pernyataan guna menanggapi laporan PBB ini.


(bbc/bbc)

Jumat, 17 Januari 2014

Nama Muhammad Semakin Populer Dan Mendunia



Inilah penghargaan yang ALlah berikan kepada baginda Rasulullah di dunia lagi sebelum akhirat, nama Muhammad menjadi nama yang paling harum, dan akan menjadi nama yang paling diminati, seakan-akan Nabi Muhammad akan selalu disebut-sebut sampai hari kiamat.

Semoga ALlah memberkati kepada beliau dan ahli keluarganya serta seluruh para sahabatnya.

Pemerintah Chechnya punya cara unik merayakan Maulid Nabi Muhammad shallalahu alaihi wasallam. Chechnya akan memberikan hadiah uang sebesar US$1000 (Rp12 juta) kepada anak yang lahir bertepatan dengan tanggal lahir nabi dan dinamai “Muhammad”.
Diberitakan Russia Times, maulid nabi Muhammad dirayakan pada Senin kemarin di Chechnya. Pemberian hadiah ini diumumkan langsung oleh pemimpin negara itu, Ramzam Kadyrov.
Kadyrov mengatakan, tidak hanya bayi bernama Muhammad yang diberi hadiah, tapi juga bayi yang diberi nama istri-istri nabi, anak-anaknya atau 10 sahabat nabi yang dijamin masuk surga.
Uang hadiah itu berasal langsung dari kantung Kadyrov sendiri, seperti disampaikannya di akun instagramnya. Dia mengatakan, ide ini datang dari ibunya, Aimani Kadyrova.
Pemerintah Chechen mengatakan dalam situsnya, ada 126 anak, terdiri dari 78 lelaki dan 48 perempuan, yang mendapatkan hadiah. Paling banyak digunakan adalah nama Muhammad dan Fatima, putri Rasulullah. (vivanews/sbb/dakwatuna)



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/01/17/44934/di-chechnya-namai-anak-muhammad-dapat-rp12-juta/#ixzz2qfA3zWMg 

Senin, 13 Januari 2014

Puisi Mujaddid Qurun 15 Pada Maulidurrasul 1435 / 2014 dan Puisi Ku





 Dan Bait Syair daripada guruku, anak keturunanmu serta pewarismu; 

Prof. Dr. Muhammad Abdul Latif Shalih Al-Furfur Al-Hasani 

Imam Madrasah Ar-Rabbaniyyah AL-Mujaddidiyyah Al-Islamiyyah Al-`Alamiyyah




Puisiku Untuk Rasulullah 

 Wahai Rasulullah Tiada kata Yang ingin Kusebut
Melainkan Cinta Tulusku kepadamu

Engkau Seorang Manusia yang Sempurna 
Membawa Manusia Kembali Mengenal ALlah ta`ala
Setelah Manusia Jatuh Kelembah Dosa

Ada yang menyembah Lembu, ada yang menyembah Api
Ada yang Menyembah Pohon dan yang menyembah Bulan
Ada yang menyembah Matahari ada yang menyembah Hewan
Ada yang menyembah Gurunya ada yang menyembah Berhala
Ada yang tidak percaya adanya sang pencipta

Wahai Rasulullah engkau datang menyadarkan manusia
Engkau datang menyerukan Tauhid kepada Yang Esa 
Allah Jalla wa`ala Wajibul Wujud
Tuhan Yang telah menciptakan Bumi sebagai Hamparan 
Dan langit sebagai sebuah binaan

Engkau Bawa Manusia menyelami Alam Zar, Jabarut, Malakut.
Mengenal Alam dunia yang waham
Engkau tunjukkan sungguh Akhirat itu nyata
Siksa kubur itu ada
Mengenalkan Mizan dihari kiamat Kelak
Maka kumpulkanlah kami ummatmu yang dhaif ini bersamamu di akhirat nanti


Inilah hadiahku untukmu Wahai baginda Rasul di Hari kelahiranmu
Pada tahun 1435 Hijriah / 2014 Miladiah.
Sepotong bait Syair kupersembahkan untuk mu
Dari Hamba Faqir Khadam bagi agama ALlah

Muhammad Kamal Sulaiman L c, Dipl


14 Jan 2014/ 12 Rabi`ul Awwal 2014 ( 1 : 42 PM )


Rabu, 01 Januari 2014

Kerajaan Ingris Pernah Tunduk Dibawah Kekuasaan Islam

Misteri, Ketika Raja Inggris Bersyahadat



Mata uang kerajaan Mercia Inggris bertuliskan syahadat (ilustrasi)
Mata uang kerajaan Mercia Inggris bertuliskan syahadat (ilustrasi)

















Liverpool. Tidak ada yang tahu apa yang sedang berlangsung atau apa yang sedang dipikirkan saat Raja Offa di Inggris mencetak uang negaranya dengan ucapan syahadat.
Raja Anglo-Saxon yang memerintah Mercia, Inggris, tahun 757 sampai 796 ini sangat kontroversial, khususnya dalam hubungannya dengan pemerintahan Abbasiyah di Irak.
Para sejarawan menganggap Offa merupakan salah satu raja Inggris paling agung dan paling kuat sebelum Raja Alfred the Great yang memerintah antara tahun 871 dan 899.


Menurut Sheikh Abdullah Quilliam alias William Henry Quilliam, ulama pribumi Inggris, dikutip dari British Muslim Heritage, Raja Offa sebenarnya sudah muslim. Walaupun tesis ini dibantah kebanyakan sejarawan lainnya.
Putera daerah Liverpool ini berdalih bukti coin kerajaan Mercia ini salah satu dalil utamanya.
Menurutnya, coin tersebut secara lengkapnya bermakna kurang lebih seperti berikut: ’Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Esa, tanpa sekutu, dan Muhammad adalah utusan Allah.’ Dan pada sekeliling coin terdapat teks yang bermakna ’Muhammad adalah utusan Allah, (Dia) Yang mengutusnya (Muhammad) dengan ajaran dan keyakinan yang benar untuk dimenangkan atas seluruh agama.’ Coin ini tampaknya hingga saat ini disimpan di British Museum.
Memang bila dilihat sekilas ada ucapan syahadat ’Laa ilaaha illa Allah’ dan beberapa kalimat lainnya yang menggambarkan keyakinan seorang Muslim. Sementara pada sisi lain coin itu berisi tulisan latin ’Offa Rex.’ Raja Offa seperti bersyahadat melalui coin.
Mereka yang menyanggah dalil Quilliam mengatakan, coin itu hanya penanda bahwa Inggris saat itu mempunyai hubungan ekonomi dan kultur yang kuat dengan Irak di bawah pemerintahan Abbasiyah, sehingga coin itu meniru mata uang Abbasiyah.
Hal ini masuk akal, walaupun sebenarnya pada saat itu negara tetangganya Spanyol alias Andalusia telah tumbuh menjadi pusat peradaban Islam Umayyah menyaingi Abbasiyah Irak
Terlepas dari itu, negara yang terkenal dengan Magna Charta ini, terus tumbuh menjadi negara besar hingga saat ini

Sumber : . (rol/sbb/dakwatuna)