Rabithah dalam pengertian bahasa(lughat) artinya bertali, berkait atau
berhubungan. Sedangkan dalam pengertian istilah thareqat, rabithah
adalah menghubungkan ruhaniah murid dengan ruhaniah guru,Guna
mendapatkan wasilah dalam rangka perjalanan menuju Allah. Syaikh Mursyid
adalah Khalifah Allah dan Khalifah Rasulullah. Mereka adalah wasilah
atau pengantar menuju Allah. Jadi tujuan murobith adalah memperoleh
wasilah.Rabithah antara murid dengan guru biasa adalah transfer of
knowledge , yakni mentransfer ilmu pengetahuan, maka rabithah antara
murid dengan guru mursyid adalah transfer of spiritual, yakni
mentransfer masalah-masalah keruhanian. Di sinilah letak perbedaannya.
Kalau transfer of knowledge tidak bisa sempurna tanpa guru, apalagi
transfer of spiritual yang jauh lebih halus dan tinggi perkaranya, maka
tidak akan bisa terjadi tanpa guru mursyid.
Dasar-dasar utamanya adalah penunjukan yang dilakukan oleh Tuhan lewat
guru mursyid atau ilham dari Allah Swt Karena itu tidak semua orang bisa
menjadi guru mursyid. Seorang mursyid adalah seorang yang ruhaninya
sudah bertemu Allah dan berpangkat waliyan mursyida, yakni kekasih Allah
yang layak menunjuki umat sesuai dengan hidayah Allah yang diterimanya.
Hal ini seperti dijelaskan dalam surat al Kahfi ayat 17.
وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ
تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ
ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ
اللَّهِ ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke
sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah
kiri sedang mereka berada dalam tempat yang Luas dalam gua itu. itu
adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang
diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan
Barang siapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan
seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (QS. al
Kahfi : 17)
Jadi jelas fungsi guru mursyid adalah sebagai pembimbing ruhani, di
samping itu juga sebagai orang tua yang harus dipatuhi segala
perintahnya dan dijauhi segala yang dilarangnya. Dengan demikian seorang
murid merasa takut manakala meninggalkan perintah agama dan atau
melanggar larangan agama, karena waktu itu akan terbayanglah bagaimana
marahnya wajah guru mursyid manakala dia berbuat demikian.
Hal yang demikian ini pulalah yang menyebabkan nabi Yusuf merasa takut
dan enggan ketika hendak diajak berzina oleh Siti Zulaikha. Terbayanglah
oleh nabi Yusuf as wajah ayahnya (nabi Ya’kub) atau wajah suami
Zulaikha (Qithfir) manakala ayahnya atau suami Zulaikha mengetahui apa
yang akan diperbuatnya.
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ
رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ
مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan
Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu
andaikata Dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar
Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya
Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (QS. Yusuf : 24)
Dasar-Dasar Rabithah Mursyid
Dasar-dasar hukum yang digunakan sebagai dalil terhadap rabithah adalah firman Allah Swt.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah
kesabaranmu dan tetaplah bersikap siaga (di perbatasan negerimu) dan
bertakwalah kamu kepada Allah Swt supaya kamu beruntung (sukses). (QS.
Ali Imran : 200).
Kata warabithu dalam ayat ini adalah diambil arti hakikinya, lebih dalam
dari sekedar makna lahiriahnya yaitu mengadakan penjagaan di pos-pos
penting dalam situasi peperangan, agar musuh tidak menerobos. Kalau
perang fisik, seseorang menjaga pertahanan wilayah dari serbuan
musuh-musuh dari orang kafir, maka dalam perang metafisik, orang
mengadakan rabithah di wilayah hati agar syetan tidak menyusup ke
wilayah hati sanubari tersebut. Itulah yang menjadi dasar-dasar rabithah
bagi para pakar tawasuf / thareqat. Menurut mereka rabithah mursyid
adalah salah satu memperoleh wasilah menuju Allah. Firman Allah Swt.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ
الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah
wasilah / jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihatlah pada
jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. al Maidah : 35)
Menurut pendapat ahli thareqat, mafhum al-wasilah dalam ayat ini
bersifat umum. Wasilah dapat diartikan dengan amal-amal kebajikan
Berkumpul dan bergandengan dengan guru mursyid secara lahir atau batin
termasuk amal yang baik dan terpuji. Berkumpul dan bergabung itulah oleh
kalangan ahli thareqat disebut dengan rabithah mursyid. Jika diperintah
mencari wasilah, maka rabithah adalah wasilah yang terbaik diantara
jenis wasilah yang lain. Firman Allah
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ
اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah : jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kamu. Allah Maha
Pengampun Lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31)
Ayat di atas menurut kalangan thareqat, isyarat kepada rabithah, sebab
“mengikut” فَاتَّبِعُونِي itu menghendaki melihat yang diikuti. Dan
melihat yang diikuti ada kalanya melihat tubuhnya secara nyata (konkret)
dan ada kalanya melihatnya secar hayal (abstrak). Melihat dalam hayal
itulah yang dimaksud dengan rabithah. Jika tidak demikian, tentu tidak
dapat dinamakan mengikut. Allah Swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Swt dan hendaklah
kamu bersama orang-orang yang benar. (QS. at Taubah : 119)
Asy Syekh Ubaidillah Ahrar menafsirkan kebersamaan dengan orang-orang
yang benar, yang diperintahkan oleh Allah Swt dalam ayat itu terbagi
dua:
· Bersama-sama jasmaniah, yaitu semajelis, sehingga kita mendapatkan keberuntungan dari orang-orang yang shiddiq.
· Bersama-sama maknawi, yaitu bersama-sama ruhaniah yang diartikan dengan rabithah.
Dalam hadist qudsi Sabda Rasulullah SAW,
Artinya : “Tidak dapat bumi dan langit-Ku menjangkau/ memuat akan zat-Ku
(yang membawa Asma-Ku / Kalimah-Ku), melainkan yang dapat menjangkaunya
/ memuatnya ialah Hati Hamba-Ku Yang Mukmin / suci, lunak dan tenang.”
(Hadis Qudsi R. Ahmad dari Wahab bin Munabbih).
Dalam Sebuah Hadist Rasulullah SAW Bersabda :
كُنْ مَعَ الله فَ اِلَى مْتَكُنْ مَعَ الله فَكُنْ مَعَ مَنْ مَعَ الله فَ اِنَّهُ يُوْاصِلُكَ اِلَّاَ الله
" Kun ma'allah faiilam takun ma'allah fakun ma'a man ma'allah fainnahu yuushiluka ilallah " ( HR. Abu daud )
“Jadilah ( Ruhani ) kalian Bersama Allah , Jika ( ruhani ) Kalian Belum
Bisa Bersama Allah, Maka Jadilah Kalian Bersama Dengan Orang Yang (
Ruhaninya ) telah Bersama ALLAH, Sesungguhnya Mereka Akan menghantarkan (
Ruhani ) kamu Kepada Allah.”
Asy Syekh Muhammad Amin al Kurdi menyatakan wajibnya seorang murid
terus-menerus me-rabithah-kan ruhaniahnya kepada ruhaniah Syekh gurunya
yang mursyid, guna mendapatkan karunia dari Allah Swt. Karunia yang
didapati itu bukanlah karunia dari mursyid, sebab mursyid tidak memberi
bekas. Yang memberi bekas sesungguhnya hanya Allah Swt, sebab di tangan
Allah Swt sajalah seluruh perbendaharaan yang ada di langit dan di bumi,
dan tidak ada yang dapat berbuat untuk men-tasaruf-kannya kecuali Allah
Swt. Hanya saja Allah Swt men-tasaruf-kannya itu, melalui pintu-pintu
atau corong-corong yang telah ditetapkan-Nya, antara lain melalui para
kekasih-Nya, para wali-wali Allah Swt yang memberikan syafaat dengan
izin-Nya (Amin al Kurdi: 1994, hlm. 448).
Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irdibiy Rhm. mengatakan:
“Sesungguhnya rasa dekat dengan Syekh Mursyid bukan dikarenakan dekat
zatnya, dan bukan pula karena mencari sesuatu dari pribadinya, tetapi
karena mencari hal-hal yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya (kedudukan
yang telah dilimpahkan Allah atasnya) dengan mengi’tiqadkan (meyakini)
bahwa yang membuat dan yang berbekas hanya semata-mata karena Allah
Ta’ala seperti orang faqir berdiri di depan pintu orang kaya dengan
tujuan meminta sesuatu yang dimilikinya sambil mengi’tiqadkan bahwa yang
mengasihi dan memberi nikmat hanya Allah yang mempunyai gudang langit
dan bumi, serta tidak ada yang menciptakan selain dari-Nya. Alasan ia
berdiri di depan pintu rumah orang kaya itu karena ia meyakini bahwa di
sana ada salah satu pintu nikmat Allah yang mungkin Allah memberikan
nikmat itu melalui sebab orang kaya itu”. (Tanwirul Qulub : 527)
Dalam kitab Mafaahiim Yajiibu an Tus-haha karangan Syekh Muhammad ‘Alawi
Al-Maliki Al-Hasani bahwa Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan:
“Sesungguhnya syi’ar kaum muslimin dalam peperangan Yamamah adalah: ‘Wahai Muhammad! (tolonglah kami)”.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika telah menyesatkan akan kamu sesuatu atau ingin minta pertolongan,
sedangkan dia berada di satu bumi yang tidak ada padanya kawan, maka
hendaklah dia berkata: ‘Wahai hamba Allah, tolonglah aku!’ Maka
sesungguhnya bagi Allah itu ada hamba-hamba yang tidak dapat dilihat.
Dan sungguh terbuktilah yang demikian itu”. (HR. Thabrani)
Dan lagi sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat selain Hafazhah yang menulis
apa-apa yang jatuh dari pohon. Maka apabila menimpa kepincangan di bumi
yang luas, hendaklah dia menyeru: ‘Tolong aku, wahai hamba Allah”. (HR.
Thabrani)
Dikisahkan ketika anak-anak Ya’qub As. merasa bersalah (karena berusaha
mencelakakan Yusuf As.), mereka semua menghadap orang tuanya, dan
memohon kepada Ya’qub As.
قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ
قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم
“Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami,
sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. Ya’qub
berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya
Dialah Yang Pengampun lagi Penyayang (kepada seluruh hamba-Nya)”. (QS.
Yusuf[12]: 96-98).
Inilah salah satu bukti bahwa permohonan do’a ampunan tidak hanya
dilakukan si pemohon, tapi dapat dimintakan tolong kepada seseorang yang
dianggap shaleh atau dekat kepada Allah SWT.
Adapun dalil sunah tentang rabithah antara lain tertera dibawah ini
Hadits Bukhari menyatakan:
أَنَّ اَبَا بَكْرِ الصِّدِّيْق رَضِىَ الله عَنْهُ شكا لِلنَّبِىِّ عَدَمَ انْفِكاَكِهِ. عَنْهُ حَتىَّ فِى الْخَلاَءِ
Bahwa Abu Bakar as Shiddik mengadukan halnya kepada Rasulullah Saw bahwa
ia tidak pernah lekang (terpisah ruhaninya) dari Nabi Saw sampai ke
dalam WC.
Sedangkan Sayyid Bakri berpendapat antara lain berbunyi sebagai berikut
وَيُضِمُّ أَيْضَا إِلىَ ذَلِكَ اسْتِمَضَارَشَيْخِهِ الْمُرْشِدِ لِيَكُوْنَ رَفِيْقَهُ فىِ السَّيِر إِلىَ الله تَعَالَى
Dan menyertakan pula kepada (dzikir Allah Allah) itu, akan hadirnya
Gurunya yang memberi petunjuk, agar supaya menjadi teman dalam perjalan
menuju kepada Allah Ta’ala. (Sayyid al Bakri dalam kitab Kifayatul
atqiya, hlm. 107).
Pendapat Para Imam Tasawuf Tentang Rabithah
a. Imam Sya’rani dalam Nafahatu Adabidz Dzikri mengatakan,
“Dianjurkannya kepada orang banyak supaya mereka mengamalkan adab dzikir
yang 20 perkara itu. Dinyatakan adab yang ke-4: hendaklah sejak
permulaan dzikir, himmah syaikhnya terus-menerus berada dalam kalbunya.
Ke-5: dia menganggap bahwa limpahan dari gurunya itu pada hakikatnya
adalah pancaran dari Nabi Saw karena syaikhlah merupakan wasilah murid
dengan Nabi Saw. Dihayalkan rupa guru di depan matanya, inilah maksud
rabithah, tidak lebih.
b. Syaikh Tajuddin an Naqsyabandi dalam Risalah-nya, menyatakan
bahwa apabila seseorang telah selesai dengan urusan dunianya, maka
hendaklah ia mengambil wudhuk, lalu masuk ke tempat khalwatnya. Sesudah
duduk, pertama-tama dia harus menghadirkan rupa guru.
c. Syaikh Abdul Ghani an Nablusi dalam komentarnya tentang
Risalah Syaikh Tajuddin an Naqsyabandi itu menyatakan bahwa itulah cara
yang paling sempurna, sebab syaikh adalah merupakan pintunya ke hadirat
Allah dan wasilah kepada-Nya. seperti Firman Allah dalam surat at Taubah
ayat 119 di atas. Firman Allah dibawah ini menunjukkan bahwa rabithah
mursyid adalah termasuk dzikir kepada Allah Swt yang maha rahman. Dzikir
demikian itu mampu mengusir syetan. Bilamana orang enggan melakukan
demikian, (dzikir dengan rabithah) maka Allah akan menyertakan orang
tersebut dengan syetan yang selalu membelokkannya ke jalan yang lurus.
Tetapi anehnya orang tersebut merasa mendapatkan petunjuk. Rasanya jauh
api dengan panggang.
Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al
Qur’an), kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), maka syetan
itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya
syetan-syetan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan benar dan
mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS. az Zukhruf : 36 –
37)
d. Syaikh Ubaidullah al Ahrar menyatakan bahwa maksud surat at Taubah ayat 119, yang artinya:
Wahai orang-orang mukmin takutlah kepada Allah dan jadilah kalian
bersama orang-orang yang benar. Di sini kita diperintahkan supaya berada
bersama-sama dengan orang-orang yang benar, baik dari segi rupa maupun
dari segi makna.
Namun demikian, walaupun rabithah merupakan faktor terpenting dalam
thareqat, kalangan ulama di luar tasawuf masih menganggapnya sebagai
bid’ah bahkan divonisnya sebagai perbuatan isyrak (menyerikatkan Allah)
dengan guru atau syaikh. Dan permasalahan rabithah sampai kini masih
tetap belum ada titik temu. Paham Wahabisme yang dijadikan ideologi Arab
Saudi (sebagai negara Islam dan pusat peradaban Islam), sangat keras
menentang rabithah, bahkan tidak hanya rabithah melainkan dzikir-dzikir
dalam thareqat juga dianggap sebagai bid’ah.
TATA CARA RABITHAH
Rabithah artinya ikatan atau berhubungan, yang berarti proses terjadinya
hubungan atau ikatan ruhaniyah antara seorang murid dengan Guru
Mursyidnya. Mengikat atau menghubungkan diri dengan Manajemen Vertikal
(Ilahiyah) seperti yang diungkapkan Al-Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang memiliki iman, bersabarlah! jadikanlah kesabaran
atasmu, berabithahlah (agar diteguhkan), dan takutlah kepada Allah,
mudah-mudahan engkau termasuk orang-orang beruntung”. (QS. Ali Imran[3]:
200)
Melakukan rabithah mengandung makna menghadirkan/ membayangkan rupa
Syekh atau Guru Mursyidnya yang Kamilah di dalam fikiran ketika hendak
melaksanakan ibadah, lebih khusus ketika berdzikir kepada Allah Ta’ala.
Menurut beberapa Ulama shufi, berabithah itu lebih utama daripada
dzikirnya seorang Salik. Melaksanakan rabithah bagi seorang murid lebih
berguna dan lebih pantas daripada dzikirnya, karena Guru itu sebagai
perantara dalam wushul ke hadirat Allah Jalla wa ‘Alaa bagi seorang
murid. Apabila bertambah rasa dekat dengan gurunya itu, maka akan
semakin bertambah pula hubungan batinnya, dan akan segera sampai kepada
yang dimaksud, yakni makrifat. Dan seyogyanya bagi seorang murid harus
Fana dahulu kepada Guru Mursyidnya, sehingga akan mencapai Fana dengan
Allah Ta’ala”.[1]
Menurut Syekh Muhammad bin Abdulah Al-Khani Al-Khalidi dalam kitabnya
Al-Bahjatus Saniyyah hal. 43, berabithah itu dilakukan dengan 6 (enam)
cara:
1. Menghadirkannya di depan mata dengan sempurna.
2. Membayangkan di kiri dan kanan, dengan memusatkan perhatian kepada
ruhaniyahnya sampai terjadi sesuatu yang ghaib. Apabila ruhaniyah
Mursyid yang dijadikan rabithah itu tidak lenyap, maka murid dapat
menghadapi peristiwa yang akan terjadi. Tetapi jika gambarannya lenyap
maka murid harus berhubungan kembali dengan ruhaniyah Guru, sampai
peristiwa yang dialami tadi atau peristiwa yang sama dengan itu, muncul
kembali. Demikianlah dilakukan murid berulang kali sampai ia fana dan
menyaksikan peristiwa ghaib tanda Kebesaran Allah. Dengan berabithah,
Guru Mursyidnya menghubungkannya kepada Allah, dan murid diasuh dan
dibimbingnya, meskipun jarak keduanya berjauhan, seorang di barat dan
lainnya di timur. Selain itu akan membentenginya dari pikiran-pikiran
yang menyesatkan sehingga memicu pintu ruhani yang batil memasuki
dirinya (baik ruhani-ruhani ataupun i’tikad-i’tikad yang batil),
3. Menghayalkan rupa Guru di tengah-tengah dahi. Memandang rabithah di
tengah-tengah dahi itu, menurut kalangan ahli Thariqat lebih kuat dapat
menolak getaran dan lintasan dalam hati yang melalaikan ingat kepada
Allah Ta’ala.
4. Menghadirkan rupa Guru di tengah-tengah hati.
5. Menghayalkan rupa Guru di kening kemudian menurunkannya ke tengah
hati. Menghadirkan rupa Syekh dalam bentuk keempat ini agak sukar
dilakukan, tetapi lebih berkesan dari cara-cara sebelumnya.
6. Menafikan (meniadakan) dirinya dan mentsabitkan (menetapkan)
keberadaan Guru. Cara ini lebih kuat menangkis aneka ragam ujian dan
gangguan-gangguan.
Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin, karangan Sayyid Abdurrahman bin
Muhammad disebutkan: “Perkataan seorang mukmin yang menyeru ‘Wahai
Fulan’ ketika di dalam kesusahan, termasuk dalam tawasul yang diseru
kepada Allah. Dan yang diseru itu hanya bersifat majaz bukan hakikat.
Makna ‘Wahai Fulan! Aku minta dengan sebabmu pada Tuhanku, agar Dia
melepaskan kesusahanku atau mengembalikan barangku yang hilang dariku,
yang diminta dari Allah SWT. Adapun yang diucapkan kepada Nabi/Wali
menjadi sebagai majaz (kiasan) dan penghubung, maka niat meminta kepada
Nabi/Wali hanyalah sebagai sebab saja.
Dan diucapkan pada syara’ dan adat, contohnya adalah seperti permintaan
tolong kita kepada orang lain: ‘tolong ambilkan barang itu’. Maka apa
yang sebenarnya adalah kita meminta tolong dengan sebab orang tadi,
hakikatnya Tuhan Yang Kuasa atas segala sesuatunya. Apabila kita
meyakini orang itu mengambil sendiri secara hakikatnya, maka barulah
boleh dikatakan syirik. Maka begitu pulalah berabithah itu sebagai sebab
yang menyampaikan bukan tujuan.
Berbicara mengenai sebab, telah banyak ayat Al-Quran dan Hadits Qudsi
yang menyatakan bahwa segala perkara yang dibutuhkan manusia dan
makhlukNya didapat dan dikaruniakan oleh Allah Yang Kuasa, apakah itu
makanan, minuman, pakaian, rizki, kesembuhan, dan sebagainya. Maka untuk
kesemuanya itu perlu adanya sebab yang menyampaikan. Penyampaiannya
bisa cepat atau lambat. Dan seseorang yang menerima rizki dari seseorang
lainnya, sepantasnyalah berterimakasih kepadanya sebagai adab atas
penyampaian rizkinya itu. Begitu pulalah seseorang meminta akan sesuatu
hanya kepada sahabat atau lainnya, tentu ada adab-adab atau tatacara
tertentu yang harus dilakukan, agar hajatnya itu terpenuhi sesuai dengan
kehendaknya. Dan tidak hanya lahiriyyah saja, perkara-perkara ruhaniyah
memiliki adab atau tatacaranya, agar tercapai penyampaian maksudnya ke
Hadhirat Allah Yang Suci.
Maka penyampaian kehendak seseorang hamba kepada lainnya, yakni yang
membutuhkan sesuatu selain Allah adalah suatu bentuk majaz bukan
hakikat. Kalau ia beri’tiqad memohon secara hakikat, maka jadilah syirik
yang menyekutukan Tuhannya.