Kamis, 23 Mei 2013

Riyadhus Shalihin



Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
* Peringatan: kitab ini masih dalam semakan. Jika terdapat sebarang pembetulan, dari segi
ayat dan nama perawi hadis, sila maklumkan kepada kami untuk di buat pembetulan.
Sekian terima kasih.


Kandungan



RIYADHUS SHALIHIN




























































1
Bab 1
Keikhlasan Dan Menghadirkan Niat Dalam Segala Perbuatan, Ucapan Dan
Keadaan Yang Nyata(al-Barizah) Dan Yang Samar(khafi)
7
Bab 2
Taubat
16
Bab 3
Sabar
28
Bab 4
Kebenaran
41
Bab 5
Muraqabah (Pengintaian;berkawan)
44
Bab 6
Ketaqwaan
53
Bab 7
Yakin Dan Tawakkal
56
Bab 8
Bertindak Lurus
63
Bab 9
Memikir-mikirkan Keagungan Makhluk-makhluk Allah Ta'ala Dan
Rusaknya Dunia Dan Kesukaran-kesukaran Di Akhirat Dan Perkara Yang
Lain-lain Di Dunia Dan Akhirat Serta Keteledoran Jiwa, Juga Mendidiknya
Dan Mengajaknya Untuk Bersikap Istiqamah
65
Bab 10
Bersegera Kepada Kebaikan Dan Menganjurkan Kepada Orang Yang
Menuju Kebaikan Supaya Menghadapinya Dengan Sungguh-sungguh
Tanpa Keragu-raguan
67
Bab 11
Bersungguh-sungguh
71
Bab 12
Menganjurkan Untuk Menambah-nambah Kebaikan Pada Akhir-akhir
Umur
81
Bab 13
Menerangkan Banyaknya Jalan-jalan Kebaikan
84
Bab 14
Berlaku Sedang Dalam Beribadat
93
Bab 15
Memelihara Kelangsungan Amalan-amalan
10
Bab 16
Perintah Memelihara Sunnah Dan Adab-adabnya
102
Bab 17
Kewajiban Mengikuti Hukum Allah Dan Apa-apa Yang Diucapkan Oleh
Orang Yang Diajak Ke Arah Itu Dan Yang Diperintah Berbuat Kebaikan
Atau Dilarang Berbuat Keburukan
109
Bab 18
Larangan Terhadap Kebid'ahan-kebid'ahan Dan Perkara-perkara Yang
Diada-adakan
112
Bab 19
Orang Yang Membuat Sunnah Yang Baik Atau Buruk
114
Bab 20
Memberikan Petunjuk Kepada Kebaikan Dan Mengajak Ke Arah Hidayat
Atau Ke Arah Kesesatan
116
Bab 21
Tolong-menolong Dalam Kebaikan Dan Ketaqwaan
118
Bab 22
Nasihat
120
Bab 23
Memerintah Dengan Kebaikan Dan Melarang Dari Kemungkaran
122
Bab 24
Memperkeraskan Siksaan Orang Yang Memerintahkan Kebaikan Atau
Melarang Dari Kemungkaran, Tetapi Ucapannya Tidak Tepat Dengan
Kelakuannya
129






Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih


Bab
Bab

Bab



Bab

Bab


25 Perintah Menunaikan Amanat
26 Keharamannya Menganiaya Dan Perintah Mengembalikan Apa-apa Yang
Dari Hasil Penganiayaan
27 Mengagungkan Kehormatan-kehormatan Kaum Muslimin Dan Uraian
Tentang Hak-hak Mereka Serta Kasih-sayang Dan Belas-kasihan Kepada
Mereka
28 Menutupi Cela-cela Kaum Muslimin Dan Melarang Untuk Menyiar-
nyiarkannya Tanpa Adanya Dharurat
29 Menyampaikan Hajat-hajatnya Kaum Muslimin


130
135

141



149

150


Bab


30


Syafaat


152


Bab
Bab

Bab




Bab

Bab
Bab
Bab

Bab






Bab
Bab
Bab

Bab

Bab

Bab



Bab




Bab




Bab


31 Mendamaikan Antara Para Manusia
32 Keutamaan Kelemahan Kaum Muslimin. Kaum Fakir Dan Orang-orang
Yang Tidak Masyhur
33 Bersikap Lemah-lembut Kepada Anak Yatim. Anak-anak Perempuan Dan
Orang Lemah Yang Lain-lain. Kaum Fakir Miskin, Orang-orang Cacat,
Berbuat Baik Kepada Mercka, Mengasihi, Merendahkan   Diri Serta
Bersikap Merendah Kepada Mereka
34 Berwasiat Kepada Kaum Wanita

35 Hak Suami Atas Isteri (Yang Wajib Dipenuhi Oleh Isteri)
36 Memberikan Nafkah Kepada Para Keluarga
37 Memberikan Nafkah Dari Sesuatu Yang Disukai Dan Dari Sesuatu Yang
Baik
38 Kewajiban Memerintah Keluarga Dan Anak-anak Yang Sudah Tamyiz,
Juga Semua Orang Yang Dalam Lingkungan Penjagaannya, Supaya Taat
Kepada Allah Ta'aia Dan Melarang Mereka Dari Menyalahinya, Harus,
Pula Mendidik Mereka Dan Mencegah Mereka Dari Melakukan Apa-apa
Yang Dilarang
39 Hak Tetangga Dan Berwasiat Dengannya
40 Berbakti Kepada Kedua Orangtua Dan Mempererat Keluarga
41 Keharamannya Berani - Kepada Orangtua - Dan Memutuskan Ikatan
Kekeluargaan
42 Keutamaan Berbakti Kepada Kawan-kawan Ayah, Ibu, Kerabat, Isteri Dan
Lain-lain Orang Yang Sunnah Dimuliakan
43 Memuliakan Ahli Baitnya Rasulullah s.a.w. Dan Menerangkan Keutamaan
Mereka
44 Memuliakan Alim Ulama, Orang-orang Tua, Ahli Keutamaan Dan
Mendahulukan Mereka Atas Lain-lainnya, Meninggikan Kedudukan
Mereka Serta Menampakkan Martabat Mereka
45 Berziarah Kepada Para Ahli Kebaikan, Duduk-duduk Dengan Mereka,
Mengawani Mereka, Mencintai Mereka, Meminta Mereka Supaya Berziarah
Ke Tempat Kita, Meminta Doa Dari Mereka Serta Berziarah Ke Tempat-
tempat Yang Utama
46 Keutamaan Mencintai Kerana Allah Dan Menganjurkan Sikap Sedemikian,
Juga Memberitahukannya Seseorang Kepada Orang Yang Dicintainya
Bahwa Ia Mencintainya Dan Apa Yang Diucapkan Oleh Orang Yang
Diberitahu Sedemikian Itu
47 Tanda-tanda Kecintaan Allah Kepada Seseorang Hamba Dan Anjuran


153
154

159




164

169
172
174

175






177
180
188

190

192

195



199




205




208


Untuk Berakhlak Sedemikian Serta Berusaha Menghasilkannya
2






Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih










































































3
Bab 48
Ancaman Dari Menyakiti Orang-orang Shalih, Kaum Yang Lemah Dan
Fakir Miskin
21
Bab 49
Menjalankan Hukum-hukum Terhadap Manusia Menurut Lahirnya,
Sedang Keadaan Hati Mereka Terserah Allah Ta'ala
212
Bab 50
Takut Kepada Allah Ta'ala
215
Bab 51
Mengharapkan
221
Bab 52
Keutamaan Mengharapkan
232
Bab 53
Mengumpulkan Antara Takut Dan Mengharapkan
233
Bab 54
Keutamaan Menangis Kerana Takut Kepada Allah Ta'ala Dan Kerana
Kindu Padanya
235
Bab 55
Keutamaan Zuhud Di Duma Dan Anjuran Unluk Mempersedikit
Keduniaan Dan Keutamaan Kefakiran
238
Bab 56
Keutamaan Lapar, Hidup Serba Kasar, Cukup Dengan Sedikit Saja Dalam
Hal Makan, Minum, Pakaian Dan Lain-lain Dari Ketentuan-ketentuan
Badan  Serta  Meninggalkan  Kesyahwatan-kesyawatan  (Keinginan-
keinginan Jasmaniyah)
248
Bab 57
Qana'ah - Puas Dengan Apa Adanya Dan Tetap Berusaha, 'Afaf- Enggan
Meminta-minta, Berlaku Sederhana Dalam Kehidupan Dan Berbelanja
Serta Mencela Meminta Tanpa Dharurat
260
Bab 58
Boleh Mengambil Tanpa Meminta Atau Mengintai -Mengharap-harapkan
265
Bab 59
Anjuran Untuk Makan Dari Hasil Usaha Tangan Sendiri Dan Menahan Diri
Dari Meminta Serta Menuntut Agar Diberi
266
Bab 60
Murah Hati Dan Dermawan Serta Membelanjakan Dalam Arah Kebaikan
Dengan Percaya Penuh Kepada Allah Ta'ala
267
Bab 61
Melarang Sifat Bakhil Dan Kikir
273
Bab 62
Mengutamakan Orang Lain Dan Memberi Pertolongan - Agar Menjadi
Ikutan
274
Bab 63
Berlomba-lomba Dalam Perkara Akhirat Dan Mengambil Banyak-banyak
Dari Apa-apa Yang Menyebabkan Keberkahan
276
Bab 64
Keutamaan Orang Kaya Yang Bersyukur Yakni Orang Yang Mengambil
Harta Dari Arah Yang Diridhai Dan Membelanjakannya Dalam Arah-arah
Yang Diperintahkan
277
Bab 65
Mengingat-ingat Kematian Dan memperpendekkan Angan-angan
279
Bab 66
Kesunnahan Berziarah Kubur Bagi Orang-orang Lelaki Dan Apa-apa Yang
Diucapkan Oleh Orang Yang Berziarah
283
Bab 67
Kemakruhan Mengharapkan Kematian Dengan Sebab Adanya Bahaya
Yang Menimpanya. Tetapi Tidak Mengapa jika Kerana Menakutkan
Adanya Fitnah Dalam Agama
284
Bab 68
Kewara'an Dan Meninggalkan Apa-apa Yang Syubhat
285
Bab 69
Kesunnahan Memencilkan Diri Di Waktu Rusaknya Keadaan Zaman Atau
Kerana Takut Fitnah Dalam Agama Dan Jatuh Dalam Keharaman,
Kesyubhatan-kesyubhatan Atau Lain-lain Sebagainya
289
Bab 70
Keutamaan Bergaul Dengan Orang Banyak, Menghadiri Shalat-shalat
Jum'at Dan Jamaah Bersama Mereka Serta Mengunjungi
291
Bab 71
Tempat-tempat Kebaikan Dan Majlis-majlis Zikir, Juga Meninjau Orang
Yang Sakit, Menghadiri Janazah-Janazah, Membantu Yang Mempunyai
Hajat, Menunjukkan Yang Bodoh Dan Lain-lain Yang Termasuk
Kemaslahatan Mereka Bagi Orang Yang Kuasa Beramar Ma'ruf Dan Nahi
Mungkar. Demikian Pula Mencegah Diri Sendiri Dari Berbuai Menyakiti
292






Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih










































































4

Serta Sabar Atas Sesuatu Yang Menyakitkan - Yang Menimpa Pada Diri
Sendiri

Bab 72
Tawadhu' Dan Menundukkan Sayap — Yakni Merendahkan Diri - Kepada
Kaum Mu'minin
295
Bab 73
Haramnya Bersikap Sombong Dan Merasa Heran Pada Diri Sendiri
298
Bab 74
Bagusnya Budi pekerti
301
Bab 75
Sabar, Perlahan-lahan Dan Kasih-sayang — Lemah-lembut
304
Bab 76
Memaafkan Dan Tidak Menghiraukan Orang-orang Yang Bodoh
306
Bab 77
Menahan Apa-apa Yang Menyakitkan
307
Bab 78
Perintah Kepada Pemesang Pemerintahan Supaya Bersikap Lemah-lembut
Kepada Kakyatnya, Memberikan Nasihat Serta Kasih-sayang Kepada
Mereka, Jangan Mengelabui Dan Bersikap Keras Pada Mereka, Juga jangan
Melalaikan Kemaslahatan- kemaslahatan Mereka, Lupa Mengurus Mereka
Ataupun Apa-apa Yang Menjadi Hajat Kepentingan Mereka
309
Bab 79
Penguasa Yang Adil
311
Bab 80
Wajibnya Mentaati Pada Penguasa Pemerintahan Dalam Perkara-perkara
Bukan Kemaksiatan Dan Haramnya Mentaati Mereka Dalam Urusan
Kemaksiatan
313
Bab 81
Melarang  Meminta  labatan  Memegang  Pemerintahan,  Memilih
Meninggalkan Kekuasaan Jikalau Tidak Ditentukan Untuk Itu Atau Kerana
Ada Hajat - Kepentingan - Padanya
316
Bab 82
Memerintah Sultan Atau Qadhi Dan Lain-lainnya Dari Golongan
Pemegang Pemerintahan Supaya Mengangkat Wazir - Atau Pembantu -
Yang Baik Dan Menakut-nakuti Mereka Dari Kawan-kawan Yang jahat
Serta Menerima - Membenarkan - Keterangan Mereka Itu
318
Bab 83
Melarang Memberikan labatan Sebagai Amir - Penguasa Negara - Ataupun
Kehakiman Dan Lain-lainnya Dari Jabatan-jabatan Pemerintahan Negara
Kepada Orang Yang Memintanya Atas Tamak Untuk Memperolehnya,
Lalu Menawarkan Diri Untuk Jabatan Itu
319

KITAB ADAB

Bab 84
Malu Dan Keutamaannya Dan Menganjurkan Untuk Berakhlak Dengan
Sifat Malu Itu
320
Bab 85
Menjaga Rahsia
322
Bab 86
Memenuhi Perjanjian Dan Melaksanakan Janji
324
Bab 87
Memelihara Apa-apa Yang Sudah Dibiasakan Dari Hal kebaikan
326
Bab 88
Sunnahnya Berbicara Yang Baik Dan Menunjukkan Wajah Yang Manis
Ketika Bertemu
327
Bab 89
Sunnahnya Menerangkan Dan Menjelaskan Pembicaraan Kepada Orang
Yang Diajak Bicara Dan Mengulang-ulanginya Agar Dapat Dimengerti.
Jikalau Orang Itu Tidak Dapat Mengerti Kecuali Dengan Cara Mengulang-
ulangi Itu
328
Bab 90
Mendengarkannya Seorang Kawan Kepada Pembicaraan Kawannya Yang
Tidak Berupa Pembicaraan Yang Haram Dan Memintanya Orang Alim
Serta Juru Nasihat Kepada Orang-orang Yang Menghadiri Majlisnya
Supaya Mereka Mendengarkan Baik-baik
329
Bab 91
Menasihati Dan Berlaku Sedang Dalam Memberikan Nasihat
330
Bab 92
Bersikap Tenang Dan Pelan-pelan
332






Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih










































































5
Bab 93
Sunnahnya Mendalangi Shalat, Ilmu Pengetahuan Dan Lain-lainnya Dari
Berbagai Ibadat Dengan Sikap Pelan-pelan Dan Tenang
333
Bab 94
Memuliakan Tamu
334
Bab 95
Sunnahnya Memberikan Berita Gembira Dan Mengucapkan Ikut
Bergembira Dengan Diperolehnya Kebaikan
335
Bab 96
Mohon Dirinya Seseorang Sahabat Dan Memberikan Wasiat Padanya
Ketika Hendak Berpisah Dengannya Kerana Bepergian Atau Lain-lainnya.
Mendoakannya Serta Meminta Doa Daripadanya (Supaya Didoakan
Olehnya)
339
Bab 97
Istikharah (Mohon Pilihan) Dalam Bermusyawarat
341
Bab 98
Sunnahnya Bepergian Ke Shalat Hari Raya. Meninjau Orang Sakit, Haji,
Peperangan, Janazah, Dan Lain-lain Sebagainya Dari Satu Macam Jalan
Dan Kembali Dengan Melalui Jalan Yang Selain Waktu Perginya Itu Kerana
Memperbanyakkan Tempat Ibadat
342
Bab 99
Mencukur Kumis, Mencabut Rambut Keliak, Mencukur Kepala, Bersalam
Dari Shalat, Makan, Minum, Berjabatan Tangan, Menjabat Hajar Aswad,
Keluar Dari Jamban, Mengambil, Memberi Dan Lain-lain Yang Semakna
Dengan ltu, Juga Disunnahkan Mendahulukan Anggota Yang Kiri Dalam
Hal-hal Yang Sebaliknya Di Atas Seperti Beringus, Berludah Di Sebelah
Kiri, Masuk Jamban, Keluar Dari Masjid, Melepaskan Sepatu, Terumpah,
Celana, Pakaian Serta Bercebok Dan Mengerjakan Apa-apa Yang Dianggap
Kotor Dan Yang Serupa Dengan itu
343

KITAB ADAB-ADAB MAKANAN

Bab 100
Mengucapkan Bismillah Pada Permulaan Makan Dan Alhamdulillah Pada
Penghabisannya
345
Bab 101
Jangan Mencela Makanan Dan Sunnahnya Memuji Makanan
348
Bab 102
Apa-apa Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Mendalangi Makanan Sedang
Ia Berpuasa Dan Tidak Hendak Berbuka
349
Bab 103
Apa Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Diundang Untuk Menghadiri
Jamuan Makanan Lalu Diikuti Oleh Orang Lain
350
Bab 104
Makan Dari Apa-apa Yang Ada Di Dekatnya, Menasihati Serta
Mengajarkannya Budi Pekerti Pada Seseorang Yang Buruk Ketika Makan
351
Bab 105
Larangan Mengumpulkan Dua Buah Kurma Atau Lain-lainnya Jikalau
Makan Bersama-sama Kecuali Dengan Izin Kawan-kawannya
352
Bab 106
Apa-apa Yang Diucapkan Dan Dilakukan Oleh Orang Yang Makan Dan
Tidak Sampai Kenyang
353
Bab 107
Perintah Makan Dari Tepi Piring Dan Larangan Makan Dari Tengahnya
354
Bab 108
Kemakruhan Makan Sambil Bersandar
355
Bab 109
Sunnahnya Makan Dengan Menggunakan Tiga Jari Dan Sunnahnya
Menjilati Jari-jari Serta Kemakruhan Mengusap Jari-jari Sebelum
Menjilatinya, Juga Sunnahnya Menjilati Piring Dan Mengambil Suapan
Yang Jatuh Daripadanya Terus Memakannya, Juga Bolehnya Mengusap
Jari-jari Sesudah Dijilati Pada Tangan, Kaki Dan Lain-lain Sebagainya
356
Bab 110
Memperbanyakkan Tangan Pada Makanan - Yakni Hendaknya Ketika
Makan itu Beserta Orang Banyak
358
Bab 111
Kesopanan-kesopanan Minum Dan Sunnahnya Bernafas Tiga Kali Di Luar
Wadah Serta Kemakruhan Bernafas Di Dalam Wadah Dan Sunnahnya
359






Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih










































































6

Memutarkan Wadah Pada Orang Yang Sebelah Kanan Lalu Yang Sebelah
Kanan Lagi Sesudah Orang Yang Memulai Minum ltu

Bab 112
Kemakruhan Minum Dari Mulut Girbah - Tempat Air Dari Kulit - Dan
Lain-lainnya Dan Uraian Bahwasanya Hal ltu Adalah Makruh Tanzih Dan
Bukan Haram
360
Bab 113
Kemakruhan Meniup Dalam Minuman
361
Bab 114
Uraian Tentang Bolehnya Minum Sambil Berdiri Dan Uraian Bahwa Yang
Tersempurna Dan Termulia ialah Minum Sambil Duduk
362
Bab 115
Sunnah Orang Yang Memberi Minum Orang Banyak Supaya Ia Minum
Terakhir Sekali
363
Bab 116
Bolehnya Minum Dari Segala Wadah Yang Suci Selain Yang Terbuat Dari
Emas Dan Perak Dan Bolehnya Mengokop Yaitu Minum Dengan Mulut
Dari Sungai Alau Lain-lain Tanpa Menggunakan Wadah Atau Tangan,
Juga Haramnya Menggunakan Wadah Yang Terbuat Dari Emas Atau Perak
Di Waktu Minum, Makan, Bersuci Dan Lain-lain Macam Penggunaan
364






Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
Bab 1

Keikhlasan Dan Menghadhirkan Niat Dalam Segala Perbuatan,
Ucapan Dan Keadaan Yang Nyata Dan Yang Samar


Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ ﴿٥﴾

"Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya sama menyembah Allah, dengan
tulus ikhlas menjalankan agama untuk-Nya semata-mata, berdiri turus dan menegakkan shalat serta
menunaikan zakat dan yang sedemikian itulah agama yang benar." (al-Bayyinah: 5)
Allah Ta'ala berfirman pula:

‏لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
"Samasekali tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah binatang kurban
itu, tetapi akan sampailah padaNya ketaqwaan dan engkau sekalian." 1 (al-Haj: 37)
Allah Ta'ala berfirman pula:
قُلْ إِن تُخْفُواْ مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Katakanlah - wahai Muhammad 2,sekalipun engkau semua sembunyikan apa-apa yang ada di
dalam hatimu ataupun engkau sekalian tampakkan, pasti diketahui juga oleh Allah." (ali-lmran: 29)

وعن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب بن نفيل بن عبد العزى بن رياح بن عبد
الله بن قرط بن رزاح بن عدي بن كعب بن لؤي بن غالب القرشي العدوي رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : [ إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى . فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ] متفق على صحته . رواه إماما المحدثين : أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبه الجعفي البخاري وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري رضي الله عنهما في كتابيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة




1. Dari Amirul mu'minin Abu Hafs yaitu Umar bin Al-khaththab bin Nufail bin Abdul
'Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin 'Adi bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib al-
Qurasyi al-'Adawi r.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda 3:


"Hanyasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan hanyasanya bagi
setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah
dan RasulNya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya
itu untuk harta dunia yang hendak diperolehinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak
dikawininya, maka hijrahnyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu."
(Muttafaq (disepakati) atas keshahihannya Hadis ini)
Diriwayatkan oleh dua orang imam ahli Hadis yaitu Abu Abdillah Muhammad bin
Ismail bin Ibrahim bin Almughirah bin Bardizbah Alju'fi Albukhari, - lazim disingkat dengan
Bukhari saja -dan Abulhusain Muslim bin Alhajjaj bin Muslim Alqusyairi Annaisaburi, -
lazim disingkat dengan Muslim saja - radhiallahu 'anhuma dalam kedua kitab masing-
masing yang keduanya itu adalah seshahih-shahihnya kitab Hadis yang dikarangkan.
Keterangan:




1



Orang-orang di zaman Jahiliyah dulu jika menginginkan atau mengharapkan keridhaan Tuhan, mereka


sembelihlah unta sebagai kurban, lalu darah unta itu disapukan pada dinding Baitullah atau Ka'bah. Kaum
Muslimin hendak meniru perbualan mereka itu, lalu turunlah ayat sebagaimana di atas.


2


Semua uraian yang tertera antara -.... - adalah tambahan terjemahan dari kami sendiri untuk memudahkan


pengertiannya dan gampang memahamkannya. Harap Maklum


3


Saidina Umar bin Khaththab r.a. itu adalah seorang khalifah dari golongan Rasyidin yang pertama kali


menggunakan sebutan Amirul mu'minin pemimpin sekalian kaum mu'minin. Beliau adalah khalifah kedua
sepeninggal Rasulullah s.a.w. Panggilan Amirul mu'minin itu lalu dicontoh dan diteruskan oleh khalifah Usman
dan Ali radhiallahu 'anhuma, juga oleh para khalifah Bani Umayyah, Bani Abbas dan selanjutnya. Jadi di zaman
khalifah Abu Bakar sebutan di atas belum digunakan. Adapun Abu Hafs itu adalah gelar kehormatan bagi
Sayidina Umar r.a. Abu artinya bapak, sedang hafs artinya singa. Beliau r.a. memperoleh gelar Bapak Singa,
sebab memang terkenal berani dalam segala hal, seperti dalam menghadapi musuh di medan perang, dalam
menegakkan keadilan di antara seluruh rakyatnya dan tanpa pandang bulu dalam meneterapkan hukuman
kepada siapapun. Ringkasnya yang salah pasti ditindak dengan keras, sedang yang teraniaya dibela dan
dilindungi.
7





Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
Hadis di atas adalah berhubungan erat dengan persoalan niat. Rasulullah s.a.w.
menyabdakannya itu ialah kerana di antara para sahabat Nabi s.a.w. sewaktu mengikuti
untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah, semata-mata sebab terpikat oleh seorang wanita
yakni Ummu Qais. Beliau s.a.w. mengetahui maksud orang itu, lalu bersabda sebagaimana di
atas.
Oleh kerana orang itu memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan maksud
yang terkandung dalam hatinya, meskipun sedemikian itu boleh saja, tetapi sebenarnya tidak
patut sekali sebab saat itu sedang dalam suasana yang amat genting dan rumit, maka
ditegurlah secara terang-terangan oleh Rasulullah s.a.w.
Bayangkanlah, betapa anehnya orang yang berhijrah dengan tujuan memburu wanita
yang ingin dikawin, sedang sahabat beliau s.a.w. yang lain-lain dengan tujuan
menghindarkan diri dari amarah kaum kafir dan musyrik yang masih tetap berkuasa di
Makkah, hanya untuk kepentingan penyebaran agama dan keluhuran Kalimatullah.
Bukankah tingkah-laku manusia sedemikian itu tidak patut sama-sekali.
Jadi oleh sebab niatnya sudah keliru, maka pahala hijrahnyapun kosong. Lain sekali
dengan sahabat-sahabat beliau s.a.w. yang dengan keikhlasan hati bersusah payah
menempuh jarak yang demikian jauhnya untuk menyelamatkan keyakinan kalbunya,
pahalanyapun besar sekali kerana hijrahnya memang dimaksudkan untuk mengharapkan
keridhaan Allah dan RasulNya. Sekalipun datangnya Hadis itu mula-mula tertuju pada
manusia yang salah niatnya ketika ia mengikuti hijrah, tetapi sifatnya adalah umum. Para
imam mujtahidin berpendapat bahwa sesuatu amal itu dapat sah dan diterima serta dapat
dianggap sempurna apabila disertai niat. Niat itu ialah sengaja yang disembunyikan dalam
hati, ialah seperti ketika mengambil air sembahyang atau wudhu', mandi shalat dan lain-lain
sebagainya.
Perlu pula kita maklumi bahwa barangsiapa berniat mengerjakan suatu amalan yang
bersangkutan dengan ketaatan kepada Allah ia mendapatkan pahala. Demikian pula jikalau
seseorang itu berniat hendak melakukan sesuatu yang baik, tetapi tidak jadi dilakukan, maka
dalam hal ini orang itupun tetap juga menerima pahala. Ini berdasarkan Hadis yang berbunyi:
"Niat seseorang itu lebih baik daripada amalannya."
Maksudnya: Berniatkan sesuatu yang tidak jadi dilakukan sebab adanya halangan yang
tidak dapat dihindarkan itu adalah lebih baik daripada sesuatu kelakuan yang benar-benar
dilaksanakan, tetapi tanpa disertai niat apa-apa.
Hanya saja dalam menetapkan wajibnya niat atau tidaknya,agar amalan itu menjadi
sah, maka ada perselisihan pendapat para imam mujtahidin. Imam-imam Syafi'i,Maliki dan
Hanbali mewaibkan niat itu dalam segala amalan, baik yang berupa wasilah yakni
perantaraan seperti wudhu', tayammum dan mandi wajib, atau dalam amalan yang berupa
maqshad (tujuan) seperti shalat, puasa, zakat, haji dan umrah. Tetapi imam Hanafi hanya
mewajibkan adanya niat itu dalam amalan yang berupa maqshad atau tujuan saja sedang
dalam amalan yang berupa wasilah atau perantaraan tidak diwajibkan dan sudah dianggap
sah.
Adapun dalam amalan yang berdiri sendiri, maka semua imam mujtahidin
sependapat tidak perlunya niat itu, misalnya dalam membaca al-Quran, menghilangkan najis
dan lain-lain.
Selanjutnya dalam amalan yang hukumnya mubah atau jawaz (yakni yang boleh
dilakukan dan boleh pula tidak), seperti makan-minum, maka jika disertai niat agar kuat
beribadat serta bertaqwa kepada Allah atau agar kuat bekerja untuk bekal dalam melakukan
ibadat bagi dirinya sendiri dan keluarganya, tentulah amalan tersebut mendapat pahala,
8





Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
sedangkan kalau tidak disertai niat apa-apa, misalnya hanya supaya kenyang saja, maka
kosonglah pahalanya.

وعن أم المؤمنين أم عبد الله عائشة رضي الله عنها قالت قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : [ يغزو جيش الكعبة فإذا كانوا ببيداء من الأرض يخسف بأولهم وآخرهم ] قالت قلت : يا رسول الله كيف يخسف بأولهم وآخرهم وفيهم أسواقهم ومن ليس منهم ؟ قال : [ يخسف بأولهم وآخرهم ثم يبعثون على نياتهم ] متفق عليه . هذا لفظ البخاري


2. Dari Ummul mu'minin yaitu ibunya - sebenarnya adalah bibinya - Abdullah yakni
Aisyah radhiallahu 'anha, berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Ada sepasukan tentera yang hendak memerangi - menghancurkan - Ka'bah,
kemudian setelah mereka berada di suatu padang dari tanah lapang lalu dibenamkan-dalam
tanah tadi -dengan yang pertama sampai yang terakhir dari mereka semuanya."
Aisyah bertanya: "Saya berkata, wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya
dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedang di antara mereka itu ada yang
ahli pasaran - maksudnya para pedagang - serta ada pula orang yang tidak termasuk
golongan mereka tadi - yakni tidak berniat ikut menggempur Ka'bah?"
Rasulullah s.a.w. menjawab: "Ya, semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai
yang terakhir, kemudian nantinya mereka itu akan diba'ats - dibangkitkan dari masing-
masing kuburnya - sesuai niat-niatnya sendiri - untuk diterapi dosa atau tidaknya.
Disepakati atas Hadis ini (Muttafaq 'alaih) - yakni disepakati keshahihannya oleh
Imam Bukhari dan Imam Muslim - Lafaz di atas adalah menurut Imam Bukhari.
Keterangan:
Sayidah Aisyah diberi gelar Ummul mu'minin, yakni ibunya sekalian orang mu'min
sebab beliau adalah isteri Rasulullah s.a.w., jadi sudah sepatutnya. Beliau juga diberi nama
ibu Abdullah oleh Nabi s.a.w., sebenarnya Abdullah itu bukan puteranya sendiri, tetapi
putera saudarinya yang bernama Asma'. Jadi dengan Sayidah Aisyah, Abdullah itu adalah
kemanakannya. Adapun beliau ini sendiri tidak mempunyai seorang puterapun.
Dari uraian yang tersebut dalam Hadis ini, dapat diambil kesimpulan bahwa
seseorang yang shalih, jika berdiam di lingkungan suatu golongan yang selalu berkecimpung
dalam kemaksiatan dan kemungkaran, maka apabila Allah Ta'ala mendatangkan azab atau
siksa kepada kaum itu, orang shalih itupun pasti akan terkena pula. Jadi Hadis ini
mengingatkan kita semua agar jangan sekali-kali bergaul dengan kaum yang ahli
kemaksiatan, kemungkaran dan kezaliman.
Namun demikian perihal amal perbuatannya tentulah dinilai sesuai dengan niat yang
terkandung dalam hati orang yang melakukannya itu.
Mengenai gelar Ummul mu'minin itu bukan hanya khusus diberikan kepada Sayidah
Aisyah radhiallahu 'anha belaka, tetapi juga diberikan kepada para isteri Rasulullah s.a.w.
yang lain-lain.

وعن عائشة رضي الله عنها قالت قال النبي صلى الله عليه و سلم : [ لا هجرة بعد الفتح ولكن جهاد ونية وإذا استنفرتم فانفروا ] متفق عليه
 ومعناه : لا هجرة من مكة لأنها صارت دار إسلام



3. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, berkata: Nabi s.a.w. bersabda: "Tidak ada hijrah
setelah pembebasan - Makkah - 4, tetapi yang ada ialah jihad dan niat. Maka dari itu, apabila




4



Sabda Rasulullah s.a.w.: "Tidak ada hijrah setelah pembebasan - Makkah," oleh para alim-ulama dikatakan


bahwa mengenai hijrah dari daerah harb atau perang yang dikuasai oleh orang kafir ke Darul Islam, yakni
daerah yang dikuasai oleh orang-orang Islam adalah tetap ada sampai hari kiamat. Oleh sebab itu Hadis di atas
diberikan penakwilannya menjadi dua macam:
Pertama: Tiada hijrah setelah dibebaskannya Makkah, sebab sejak saat itu Makkah telah menjadi
sebagian dari Darul Islam atau Negara Islam, jadi tidak mungkin lagi akan terbayang tentang adanya hijrah setelah
itu.
Kedua: Inilah yang merupakan pendapat tershahih, yaitu yang diartikan bahwa hijrah yang dianggap
mulia yang diluntut, yang pengikutnya itu memperoleh keistimewaan yang nyata itu sudah terputus sejak
9





Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
engkau semua diminta untuk keluar - oleh imam untuk berjihad, - maka keluarlah – yakni
berangkatlah." (Muttafaq 'alaih)


Maknanya: Tiada hijrah lagi dari Makkah, sebab saat itu Makkah telah


menjadi


perumahan atau Negara Islam.

وعن أبي عبد الله جابر بن عبد الله الأنصاري رضي الله عنهما قال : كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم في غزاة فقال : [ إن بالمدينة لرجالا ما سرتم مسيرا ولا قطعتم واديا إلا كانوا معكم حبسهم المرض
 وفي رواية : ألا شركوكم في الأجر ] رواه مسلم
 ورواه البخاري عن أنس قال : [ رجعنا من غزوة تبوك مع النبي صلى الله عليه و سلم فقال : [ إن أقواما خلفنا بالمدينة ما سلكنا شعبا ولا واديا ألا وهم معنا حبسهم العذر ]



4. Dari Abu Abdillah yaitu Jabir bin Abdullah al-Anshari radhiallahu'anhuma, berkata:
Kita berada beserta Nabi s.a.w. dalam suatu peperangan - yaitu perang Tabuk - kemudian
beliau s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya di Madinah itu ada beberapa orang lelaki yang engkau semua tidak
menempuh suatu perjalanan dan tidak pula menyeberangi suatu lembah, melainkan orang-
orang tadi ada besertamu - yakni sama-sama memperoleh pahala - mereka itu terhalang oleh
sakit - maksudnya andaikata tidak sakit pasti ikut berperang."
Dalam suatu riwayat dijelaskan: "Melainkan mereka - yang tertinggal itu - berserikat
denganmu dalam hal pahalanya." (Riwayat Muslim)
Hadis sebagaimana di atas, juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas r.a.,
Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Kita kembali dari perang Tabuk beserta Nabi s.a.w., lalu beliau bersabda:
"Sesungguhnya ada beberapa kaum yang kita tinggalkan di Madinah, tiada
menempuh kita sekalian akan sesuatu lereng ataupun lembah, 5 melainkan mereka itu
bersama-sama dengan kita jua -jadi memperoleh pahala seperti yang berangkat untuk
berperang itu - mereka itu terhalang oleh sesuatu keuzuran."

وعن أبي يزيد معن بن يزيد بن الأخنس رضي الله عنهم وهو وأبوه وجده صحابيون قال : كان أبي يزيد أخرج دنانير يتصدق بها فوضعها عند رجل في المسجد فجئت فأخذتها فأتيته بها فقال : والله ما إياك أردت فخاصمته إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال : [ لك ما نويت يا يزيد ولك ما أخذت يا معن ] رواه البخاري



5. Dari Abu Yazid yaitu Ma'an bin Yazid bin Akhnas radhiallahu 'anhum. Ia, ayahnya
dan neneknya adalah termasuk golongan sahabat semua. Kata saya: "Ayahku, yaitu Yazid
mengeluarkan beberapa dinar yang dengannya ia bersedekah, lalu dinar-dinar itu ia letakkan
di sisi seseorang di dalam masjid.
Saya - yakni Ma'an anak Yazid - datang untuk mengambilnya, kemudian saya
menemui ayahku dengan dinar-dinar tadi. Ayah berkata: "Demi Allah, bukan engkau yang
kukehendaki - untuk diberi sedekah itu."
Selanjutnya hal itu saya adukan kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau bersabda:
"Bagimu adalah apa yang engkau niatkan hai Yazid – yakni bahwa engkau telah
memperoleh pahala sesuai dengan niat sedekahmu itu - sedang bagimu adalah apa yang
engkau ambil, hai Ma'an - yakni bahwa engkau boleh terus memiliki dinar-dinar tersebut,
kerana juga sudah diizinkan oleh orang yang ada di masjid, yang dimaksudkan oleh Yazid
tadi." (Riwayat Bukhari)


dibebaskannya Makkah dan sudah lampau pula untuk mereka yang ikut berhijrah sebelum dibebaskannya
Makkah itu, sebab dengan dibebaskan Makkah itu, Islam boleh dikata telah menjadi kokoh kuat dan perkasa,
yakni suatu kekuatan dan keperkasaan yang nyata. Jadi lain sekali dengan sebelum dibebaskannya Makkah
tersebut.
Adapun sabda beliau s.a.w. yang menyebutkan: "Tetapi yang ada adalah jihad dan niat," maksudnya
ialah bahwa diperolehnya kebaikan dengan sebab hijrah itu telah terputus dengan dibebaskannya Makkah itu,
tetapi sekalipun demikian masih pula dapat dicapai kebaikan tadi dengan berjihad dan niat yang shalih. Dalam
Hadis di atas jelas diuraikan adanya perintah untuk suka berniat dalam melakukan kebaikan secara mutlak dan
bahwa yang berniat itu sudah dapat memperoleh pahala dengan hanya keniatannya itu belaka.


5


Syi'ib (lereng) yangdimaksudkan di sini ialah jalan didaerah pegunungan, sedang Wadi (lembah) ialah tempat


yang di situ ada airnya mengalir.
10





Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih



6 - وعن أبي إسحاق سعد بن أبي وقاص مالك بن أهيب بن عبد مناف بن زهرة بن كلاب بن مرة بن كعب بن لؤي القرشي الزهري رضي الله عنه أحد العشرة المشهود لهم بالجنة رضي الله عنهم قال : جاءني رسول الله صلى الله عليه و سلم يعودني عام حجة الوداع من وجع اشتد بي فقلت : يا رسول الله إني قد بلغ بي من الوجع ما ترى وأنا ذو مال ولا يرثني إلا ابنة لي أفأتصدق بثلثي مالي ؟ قال [ لا ] قلت : فالشطر يا رسول الله ؟ فقال [ لا ] قال : فالثلث يا رسول الله ؟ قال : [ الثلث والثلث كثير أو كبير إنك أن تذر ورثتك أغنياء خير من أن تذرهم عالة يتكففون الناس وإنك لن تنفق نفقة تبتغي بها وجه الله إلا أجرت عليها حتى ما تجعل في في امرأتك ] قال فقلت : يا رسول الله أخلف بعد أصحابي ؟ قال : [ إنك لن تخلف فتعمل عملا تبتغي به وجه الله إلا ازددت به درجة ورفعة ولعلك أن تخلف حتى ينتفع بك أقوام ويضر بك آخرون اللهم أمض لأصحابي هجرتهم ولا تردهم على أعقابهم لكن البائس سعد بن خولة ] يرثي له رسول الله صلى الله عليه و سلم أن مات بمكة . متفق عليه



6. Dari Abu Ishak, yakni Sa'ad bin Abu Waqqash, yakni Malik bin Uhaib bin Abdu
Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai al-Qurasyi az-Zuhri r.a., yaitu
salah satu dari sepuluh orang yang diberi kesaksian akan memperoleh syurga radhiallahu
'anhum, katanya:
Rasulullah s.a.w. datang padaku untuk menjengukku pada tahun haji wada' - yakni
haji Rasulullah s.a.w. yang terakhir dan sebagai haji pamitan - kerana kesakitan yang
menimpa diriku, lalu saya berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya saja kesakitanku ini telah
mencapai sebagaimana keadaan yang Tuan ketahui, sedang saya adalah seorang yang
berharta dan tiada yang mewarisi hartaku itu melainkan seorang puteriku saja. Maka itu
apakah dibenarkan sekiranya saya bersedekah dengan dua pertiga hartaku?" Beliau
menjawab: "Tidak dibenarkan." Saya berkata pula: "Separuh hartaku ya Rasulullah?" Beliau
bersabda: "Tidak dibenarkan juga." Saya berkata lagi: "Sepertiga, bagaimana ya Rasulullah?"
Beliau lalu bersabda: "Ya, sepertiga boleh dan sepertiga itu sudah banyak atau sudah besar
jumlahnya. Sesungguhnya jikalau engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan
kaya-kaya, maka itu adalah lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam
keadaan miskin meminta-minta pada orang banyak. Sesungguhnya tiada sesuatu nafkah
yang engkau berikan dengan niat untuk mendapatkan keridhaan Allah, melainkan engkau
pasti akan diberi pahalanya, sekalipun sesuatu yang engkau berikan untuk makanan
isterimu."
Abu Ishak meneruskan uraiannya: Saya berkata lagi: "Apakah saya ditinggalkan - di
Makkah - setelah kepulangan sahabat-sahabatku itu?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya
engkau itu tiada ditinggalkan, kemudian engkau melakukan suatu amalan yang engkau
maksudkan untuk mendapatkan keridhaan Allah, melainkan engkau malahan bertambah
derajat dan keluhurannya. Barangkali sekalipun engkau ditinggalkan - kerana usia masih
panjang lagi -, tetapi nantinya akan ada beberapa kaum yang dapat memperoleh
kemanfaatan dari hidupmu itu - yakni sesama kaum Muslimin, baik manfaat duniawiyah
atau ukhrawiyah - dan akan ada kaum lain-lainnya yang memperoleh bahaya dengan sebab
masih hidupmu tadi - yakni kaum kafir, sebab menurut riwayat Abu Ishak ini tetap hidup
sampai dibebaskannya Irak dan lain-lainnya, lalu diangkat sebagai gubernur di situ dan
menjalankan hak dan keadilan.
Ya Allah, sempurnakanlah pahala untuk sahabat-sahabatku dalam hijrah mereka itu
dan janganlah engkau balikkan mereka pada tumit-tumitnya - yakni menjadi murtad kembali
sepeninggalnya nanti.
Tetapi yang miskin - rugi - itu ialah Sa'ad bin Khaulah.”
Rasulullah s.a.w. merasa sangat kasihan padanya sebab matinya di Makkah.
(Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
Sa'ad bin Khaulah itu dianggap sebagai orang yang miskin dan rugi, kerana menurut
riwayat ia tidak mengikuti hijrah dari Makkah, jadi rugi kerana tidak ikutnya hijrah tadi.
Sebagian riwayat yang lain mengatakan bahwa ia sudah mengikuti hijrah, bahkan pernah
mengikuti perang Badar pula, tetapi akhirnya ia kembali ke Makkah dan terus wafat di situ
sebelum dibebaskannya Makkah saat itu. Maka ruginya ialah kerana lebih sukanya kepada
Makkah sebagai tempat akhir hayatnya, padahal masih di bawah kekuasaan kaum kafir. Ada
lagi riwayat yang menyebutkan bahwa ia pernah pula mengikuti hijrah ke Habasyah,
mengikuti pula perang Badar, kemu-dian mati di Makkah pada waktu haji wada' tahun 10,
ada lagi yang meriwayatkan matinya itu pada tahun 7 di waktu perletakan senjata antara

11





Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
kaum Muslimin dan kaum kafir. Jadi kerugiannya di sini ialah kerana ia mati di Makkah itu,
kerana kehilangan pahala yang sempurna yakni sekiranya ia mati di Madinah, tempat ia
berhijrah yang dimaksudkan semata-mata sebab Allah Ta'ala belaka.

7 - وعن أبي هريرة عبد الرحمن بن صخر رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : [ إن الله تعالى لا ينظر إلى أجسامكم ولا إلى صوركم ولكن ينظر إلى قلوبكم ] رواه مسلم


7. Dari Abu Hurairah, yaitu Abdur Rahman bin Shakhr r.a., katanya: Rasulullah s.a.w.
bersabda:
"Sesungguhnya Allah Ta'ala itu tidak melihat kepada tubuh-tubuhmu, tidak pula
kepada bentuk rupamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hatimu sekalian." (Riwayat Muslim)

8 - وعن أبي موسى عبد الله بن قيس الأشعري رضي الله عنه قال : سئل رسول الله صلى الله عليه و سلم عن الرجل يقاتل شجاعة ويقاتل حمية ويقاتل رياء أي ذلك في سبيل الله ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : [ من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله ] متفق عليه



8. Dari Abu Musa, yakni Abdullah bin Qais al-Asy'ari r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w.
ditanya perihal seseorang yang berperang dengan tujuan menunjukkan keberanian, ada lagi
yang berperang dengan tujuan kesombongan - ada yang artinya kebencian - ada pula yang
berperang dengan tujuan pameran - menunjukkan pada orang-orang lain kerana ingin
berpamer. Manakah di antara semua itu yang termasuk dalam jihad fi-sabilillah?
Rasulullah s.a.w. menjawab:
"Barangsiapa yang berperang dengan tujuan agar kalimat Allah - Agama Islam - itulah
yang luhur, maka ia disebut jihad fi-sabilillah." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
Hadis di atas dengan jelas menerangkan semua amal perbuatan itu hanya dapat dinilai
baik, jika baik pula niat yang terkandung dalam hati orang yang melakukannya.
Selain itu dijelaskan pula bahwa keutamaan yang nyata bagi orang-orang yang
berjihad melawan musuh di medan perang itu semata-mata dikhususkan untuk mereka yang
berjihad fisabilillah, yakni tiada maksud lain kecuali untuk meluhurkan kalimat Allah, yaitu
Agama Islam.

9 - وعن أبي بكرة نفيع بن الحارث الثقفي رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال :
 [ إذا التقى المسلمان بسيفيهما فالقاتل والمقتول في النار ] قلت : يا رسول الله هذا القاتل فما بال المقتول ؟ قال : [ إنه كان حريصا على قتل صاحبه ] متفق عليه



9. Dari Abu Bakrah, yakni Nufai' bin Haris as-Tsaqafi r.a. bahwasanya Nabi s.a.w.
bersabda:
"Apabila dua orang Muslim berhadap-hadapan dengan membawa masing-masing
pedangnya - dengan maksud ingin berbunuh-bunuhan - maka yang membunuh dan yang
terbunuh itu semua masuk di dalam neraka."
Saya bertanya: "Ini yang membunuh - patut masuk neraka -tetapi bagaimanakah
halnya orang yang terbunuh - yakni mengapa ia masuk neraka pula?"
Rasulullah s.a.w. menjawab:
"Kerana sesungguhnya orang yang terbunuh itu juga ingin sekali hendak membunuh
kawannya." (Muttafaq 'alaih)



10 - وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : [ صلاة الرجل في جماعة تزيد على صلاته في سوقه وبيته بضعا وعشرين درجة وذلك أن أحدهم إذا توضأ فأحسن الوضوء ثم أتى المسجد لا يريد إلا الصلاة لا ينهزه إلا الصلاة لم يخط خطوة إلا رفع بها درجة وخط عنه بها خطيئة حتى يدخل المسجد فإذا دخل المسجد كان في الصلاة ما كانت الصلاة هي تحبسه والملائكة يصلون على أحد كم ما دام في مجلسه الذي صلى فيه يقولون : اللهم اCم اغفر له اللهم تب عليه ما لم يؤذ فيه ما لم يحدث فيه ] متفق عليه . هذا لفظ مسلم
 وقوله صلى الله عليه و سلم : [ ينهزه ] هو بفتح الياء والهاء وبالزاي : أي يخرجه وينهضه



10. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Shalatnya seseorang lelaki dengan berjamaah itu melebihi shalatnya di pasar atau
rumahnya - secara sendirian atau munfarid - dengan duapuluh lebih - tiga sampai sembilan
tingkat derajatnya. Yang sedemikian itu ialah kerana apabila seseorang itu berwudhu' dan
memperbaguskan cara wudhu'nya, kemudian mendatangi masjid, tidak menghendaki ke
masjid itu melainkan hendak bersembahyang, tidak pula ada yang menggerakkan
kepergiannya ke masjid itu kecuali hendak shalat, maka tidaklah ia melangkahkan kakinya



12





Riyadhus Shalihin – Taman Orang-orang Shalih
selangkah kecuali ia dinaikkan tingkatnya sederajat dan kerana itu pula dileburlah satu
kesalahan daripadanya - yakni tiap selangkah tadi - sehingga ia masuk masjid.
Apabila ia telah masuk ke dalam masjid, maka ia memperoleh pahala seperti dalam
keadaan shalat, selama memang shalat itu yang menyebabkan ia bertahan di dalam masjid
tadi, juga para malaikat mendoakan untuk mendapatkan kerahmatan Tuhan pada seseorang
dari engkau semua, selama masih berada di tempat yang ia bersembahyang disitu. Para
malaikat itu berkata: "Ya Allah, kasihanilah orang ini; wahai Allah, ampunilah ia; ya Allah,
terimalah taubatnya." Hal sedemikian ini selama orang tersebut tidak berbuat buruk -yakni
berkata-kata soal keduniaan, mengumpat orang lain, memukul dan lain-lain - dan juga
selama ia tidak berhadas - yakni tidak batal wudhu'nya.
Muttafaq 'alaih. Dan yang tersebut di atas adalah menurut lafaznya Imam Muslim.
Sabda Nabi s.a.w.: Yanhazu dengan fathahnya ya' dan ha' serta dengan menggunakan
zai, artinya: mengeluarkannya dan menggerakkannya.
11 - وعن أبي العباس عبد الله بن عباس بن عبد المطلب رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه و سلم فيما يروى عن ربه تبارك وتعالى قال : [ إن الله تعالى كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله تعالى عنده حسنة كاملة وإن هم بها فعملها كتبها الله عشر حسنات إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة وإن هم بسيئة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة وإن هم بها فعملها كتبها الله سيئة واحدة ] متفق عليه



11. Dari Abul Abbas, yaitu Abdullah bin Abbas bin Abdul Muththalib, radhiallahu
'anhuma dari Rasulullah s.a.w. dalam suatu uraian yang diceriterakan dari Tuhannya
Tabaraka wa Ta'ala - Hadis semacam ini disebut Hadis Qudsi - bersabda:
"Sesungguhnya Allah Ta'ala itu mencatat semua kebaikan dan keburukan, kemudian
menerangkan yang sedemikian itu - yakni mana-mana yang termasuk hasanah dan mana-
mana yang termasuk sayyiah.
Maka barangsiapa yang berkehendak mengerjakan kebaikan, kemudian tidak jadi
melakukannya, maka dicatatlah oleh Allah yang Maha Suci dan Tinggi sebagai suatu
kebaikan yang sempurna di sisiNya, dan barangsiapa berkehendak mengerjakan kebaikan itu
kemudian jadi melakukannya, maka dicatatlah oleh Allah sebagai sepuluh kebaikan di
sisiNya, sampai menjadi tujuh ratus kali lipat, bahkan dapat sampai menjadi berganda-ganda
yang amat banyak sekali.
Selanjutnya barangsiapa yang berkehendak mengerjakan keburukan kemudian tidak
jadi melakukannya maka dicatatlah oleh
Allah Ta'ala sebagai suatu kebaikan yang sempurna di sisiNya dan barangsiapa yang
berkehendak mengerjakan keburukan itu kemudian jadi melakukannya, maka dicatatlah oleh
Allah Ta'ala sebagai satu keburukan saja di sisiNya." (Muttafaq 'alaih)
Keterangan:
Hadis di atas menunjukkan besarnya kerahmatan Allah Ta'ala kepada kita semua
sebagai ummatnya Nabi Muhammad s.a.w.
Renungkanlah wahai saudaraku. Semoga kami dan anda diberi taufik (pertolongan)
oleh Allah hingga dapat menginsafi kebesaran belas-kasihan Allah dan fikirkanlah kata-kata
ini.
Ada perkataan Indahuu (bagiNya), inilah suatu tanda kesungguhan Allah dalam
memperhatikannya itu.
Juga ada perkataan kaamitah (sempurna), ini adalah untuk mengokohkan artinya dan
sangat perhatian padanya.
Dan Allah berfirman di dalam kejahatan yang disengaja (di-maksud) akan dilakukan,
tetapi tidak jadi dilakukan, bagi Allah ditulis menjadi satu kebaikan yang sempurna
dikokohkan dengan kata-kata "sempurna". Dan kalau jadi dilakukan, ditulis oleh Allah "satu



13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar